Terang yang kurang
sepenuhnya menjadi terang. Terang yang
masih butuh sesuatu agar dapat disebut terang yang sempurna. Terang yang redup. Ini karna awan yang menutupi sang Dewi
Matahari atau karna angin tidak dapat berhembus sekencang mungkin untuk menghusir
sang awan agar Dewi dapat bersinar terang?
Entahlah. Tak ada yang menduga
tentang cerita cuaca ini.
Bulan telah
berganti, from June to July. Tak disangka, 9 bulan sudah aku mengandung. Mengandung janin? Tentu tidak.
Mengandung sejuta perasaan, yang
mungkin, jika diungkapkan akan
sia-sia. Sekalipun aku
mengungkapkan, itu bukanlah hal yang
ingin dia lakukan, tapi karna
teman-teman ku, kasihan. Perasaan yang mungkin jika terlalu lama aku
simpan, akan mati, atau akan berubah menjadi wujud seorang anak
yang berjudulkan ‘tak pernah dapat mengungkapkan ini’, anak yang hanya berbicara tentang jutaan bahkan
ribuan perasaan ku yang tak sampai padanya.
Salahkah aku memendam? Apa kau benar-benar
tak sadar? Seandainya aku
ungkapkan, apa itu memalukan? Apa kau
akan percaya?. Segala fuji bagi orang
yang tetap bertahan meskipun tahu kesakitan seperti apa yang akan menerpa.
Aku sadar, aku bukan seorang pahlawan kuat yang tidak
mempunya rasa takut dengan pedang di tangannya.
Aku juga tahu, aku juga bukan
seorang peneliti hebat yang pintar menyelesaikan suatu masalah begitu
saja. Aku tidak akan berjalan diatas
kerikil berapi, aku juga tidak mau
memaksakan diri untuk berjalan diatas air.
Aku juga tidak akan pernah bisa melakukan hal yang tidak aku inginkan
untuk lakukan. ‘Dia bisa, why I can’t?’
I can’t cause I won’t. Apa yang
dia lakukan, kau sebut ‘apa yang aku tak
bisa lakukan’ begitu bukan?.
Tergambarkan
dengan jelas, paras seseorang yang terkabarkan
benar-benar mencintaiku dengan tulus. Seseorang
yang tak pernah ku toleh sedikit pun.
Siapa dia? Se-lugu apa dia? Apa dia benar-benar tak tahu kalau aku sudah
terpikat dengan yang lain?. Akhirnya aku
tahu siapa dia. Oh ternyata dia yang
selama ini dikabarkan dengan berita-berita aneh dari mulut-mulut penyebar
gosip?. Awalnya aku yakin, berita itu hanya sekilas omong kosong para
penggosip. Sampai akhirnya, kau melakukan hal yang tak pernah ku
duga. Hal yang merapuhkan keyakinan ku
tentang kepalsuan omong kosong itu. Kau
mengetahui segala hal yang aku suka.
Salah satu hal yang kau ketahui dengan perinci, tentang kesukaan ku membaca buku. Entah kau tahu darimana hal itu, kau yang bilang begitu saja, aku suka membaca buku komik, komik tentang segala hal yang ber-genre
action. Terutama dengan Naruto, salah satu tuku animasi yang biasa dijadikan
cerita komik yang ku suka. Kau
membelikan beberapa edisi komik Naruto
yang belum pernah ku baca. Beberapa itu
tidak dapat ku sebut sedikit.
Apa ini? Mengeluarkan uang mu secara cuma-cuma hanya
untuk seseorang seperti aku?. Terlihat
jelas, seseorang yang di pikirannya
hanya ada ‘game’, sekarang lebih memilih
mengeluarkan uang untuk bermain hany demi seseorang seperti ku? Apa bisa ku sebut itu palsu?. Ku pikir,
kau cukup berani untuk menyampaikannya langsung pada ku. Sampai akhirnya, buku-buku yang kau beli hanya menjadi barang
rongsokan dirumah mu. Tapi, apa kau sadar? Semua yang kau lakukan untuk ku, tidak akan sanggup menerbangkan sosoknya dari
hadapan ku. Sesosok manusia yang membuat
aku terlihat lugu dihadapannya. Sesosok
orang yang terus ku tatap setiap saat.
Maaf, bukan aku memilih untuk
acuh dengan mu, aku hanya tak suka jika
kamu terus seperti ini, aku takut
perasaan mu semakin menjadi seperti perasaan ku padanya. Maaf,
bukannya aku bilang kamu kurang tulus,
namun, ketulusanmu kurang kuat
untuk membuat sesosok itu menyingkir dari tatapan ku. Sekarang kamu sudah memiliki kekasih
bukan? Bahagia lah dengannya. Jangan pernah kau coba untuk kembali
mengingat ku. Itu akan membuatmu terasa
lebih membaik.
Bukan , bukan hanya dia yang benar-benar tulus. Masih ada beberapa orang lainnya yang
terlihat tulus, meskipun lebih banyak
yang terlihat sangat tidak tulus. Banyak
hati yang aku acuhkan. Mungkin aku
seseorang yang bekerja sebagai pencabuk hati yang tak bersalah. Tak ada yang dapat menggoyahkan perasaan ku
saat ini. Sekalipun kamu berubah menjadi
penjahat yang mengerikan. Aku akan tetap
berada disamping mu. Menjadi tempat bersandar
ketika kau lelah, meskipun aku
tahu, kamu tidak akan pernah lelah
mengejar orang itu dan menyakiti perasaan ku.
Aku akan tetap berdiri disini, di
tempat ini. Kasihan kamu, mencintai seseorang yang tidak sepenuhnya
mencintai mu, itu hanya menyakitkan
dirimu, kau tak pantas mendapatkan
ini.
Banyak hal yang
sejak awal aku tafsirkan mungkin berhasil.
Masih dalam tahap ‘mungkin’.
Tahap-tahap yang siapa saja bisa lakukan. Seperti ocehan mereka “Haha, just like that?
Hahahahaha.” Siapa yang tak tahu? Mereka mentertawakan apa yang menurut
ku, aku tak bisa lakukan. Mereka merendahkan. Mereka tak tahu apa-apa tentang bagaimana
perasaannya jika menduduki posisi ku.
Bimbang. Ingin meneruskan dan
membiarkan perasaan ini mengalir begitu saja? Membiarkan hati ini terus tersakiti? Atau aku harus menghentikan ini semua
disini? Menyerah? Menyiksa perasaan yang tertahan ini? Aku bingung.
Meskipun sudah
ada yang tahu bagaimana rasanya, karna
dia benar-benar duduk di posisi ku.
Meskipun dia tidak terlihat bimbang sedikit pun. Mungkin dia benar-benar tahu apa jalan yang
harus dia ambil. Dia ingin
melakukannya, dengan begitu dia bisa
melakukannya. Wajar saja menurut
ku. Aku sadar, aku bukan tidak bisa melakukannya, aku hanya tidak ingin melakukannya. Berbincang dengan mu? Apa yang selama ini aku kejar bisa aku
lakukan begitu saja? Apa dirimu yang
membuat aku tertarik, berubah menjadi
orang yang membosankan? Mungkin jika aku
bisa berbincang dengan mu, akan terasa
menyenangkan, tapi aku tahu, tidak lama kemudian, semua terasa hambar, membosankan.
Tidak ada sesuatu yang harus aku kejar dari mu. Melakukan suatu hal bersama mu? Itu yang membuat semua ini menarik. Menarik karna aku masih mengejarnya, tidak ingin membuatnya menjadi nyata. Sengaja atau tidak, aku tidak ingin melakukannya
terburu-buru. Karna aku hanya
membutuhkan mu disuatu dunia yang berbeda dengan dimensi ini. Sesosok orang yang membantu ku melewati hal
yang menurut ku kurang baik atau kurang menarik. Seperti dulu.
Sekarang, aku tahu kamu sudah berubah. Kamu menjadi dewasa. Kamu mengejar cinta. Aku bangga dengan perubahan mu menjadi
dewasa. Namun aku kecewa, seseuatu yang ku cinta berubah karna
kedewasaan mu. Aku tahu, aku tidak membutuhkan dirimu yang dewasa
ini, aku butuh dirimu yang dulu, yang ada setiap saat di dekat ku. Sekalipun itu hanya yang ku rasa. Sekarang seseorang yang menginginkan
segalanya terjadi itu yang kau kejar.
Seseorang yang menjadi alasan mu tertawa. Seseorang yang memberikan mu suatu
hadiah, seseorang yang menggenggam
tangan mu, seseorang yang... Memberikan suatu hal yang tidak aku berikan
kepada mu, kebahagiaan. Kau sadar?
Jika kau terus memberikan aku waktu untuk menikmati saat-saat aku
mengejarmu, mungkin, seharusnya seseorang yang membuat mu tertawa
atau seseorang yang menjadi alasan mu bahagia itu adalah aku, seharusnya seseorang yang memberikan mu suatu
hadiah tak terduga adalah aku, seharusnya
seseorang yang menggenggam tangan mu saat ini adalah aku, seharusnya...
Seseorang yang membuat mu bahagia adalah aku. That should be me.
Dulu, aku tahu,
semua mungkin saja terjadi, semua
hal tanpa terkecuali. Sekalipun itu
berhubungan dengan mu. Sampai
akhirnya, kamu yang menjadi alasan ku
berkata ‘tidak mungkin’. Memecahkan
keyakinan ku. Aku dengan mudahnya
berkata ‘tidak mungkin’ dan tidak ingin melakukan. Sudah menjadi ‘tidak mungkin’ semua ini. Tapi...
Mengapa lagi-lagi, kau juga yang
merubah kata ‘tidak mungkin’ ini? Ketika
kau mulai menghilang dari kehidupan ku,
tidak ada jejak kau masih berada disini.
Namun, tiba-tiba kau kembali
muncul. Menciptakan suasan itu
lagi. Kamu masih terlihat tidak jelas
dan menjengkelkan seperti dulu, dulu
sekali. Akhirnya aku berkata ‘mungkin’
kembali. Maybe to impossible and
impossible to maybe, and
next? Who knows?. I’ll be ready.
‘