Selasa, 02 Juli 2013

Awan..

            Terang yang kurang sepenuhnya menjadi terang.  Terang yang masih butuh sesuatu agar dapat disebut terang yang sempurna.  Terang yang redup.  Ini karna awan yang menutupi sang Dewi Matahari atau karna angin tidak dapat berhembus sekencang mungkin untuk menghusir sang awan agar Dewi dapat bersinar terang?  Entahlah.  Tak ada yang menduga tentang cerita cuaca ini. 


            Bulan telah berganti,  from June to July.  Tak disangka,  9 bulan sudah aku mengandung.  Mengandung janin?  Tentu tidak.  Mengandung sejuta perasaan,  yang mungkin,  jika diungkapkan akan sia-sia.  Sekalipun aku mengungkapkan,  itu bukanlah hal yang ingin dia lakukan,  tapi karna teman-teman ku,  kasihan.  Perasaan yang mungkin jika terlalu lama aku simpan,  akan mati,  atau akan berubah menjadi wujud seorang anak yang berjudulkan ‘tak pernah dapat mengungkapkan ini’,  anak yang hanya berbicara tentang jutaan bahkan ribuan perasaan ku yang tak sampai padanya.  Salahkah aku memendam?  Apa kau benar-benar tak sadar?  Seandainya aku ungkapkan,  apa itu memalukan? Apa kau akan percaya?.  Segala fuji bagi orang yang tetap bertahan meskipun tahu kesakitan seperti apa yang akan menerpa.

            Aku sadar,  aku bukan seorang pahlawan kuat yang tidak mempunya rasa takut dengan pedang di tangannya.  Aku juga tahu,  aku juga bukan seorang peneliti hebat yang pintar menyelesaikan suatu masalah begitu saja.  Aku tidak akan berjalan diatas kerikil berapi,  aku juga tidak mau memaksakan diri untuk berjalan diatas air.  Aku juga tidak akan pernah bisa melakukan hal yang tidak aku inginkan untuk lakukan.  ‘Dia bisa, why I can’t?’ I can’t cause I won’t.  Apa yang dia lakukan,  kau sebut ‘apa yang aku tak bisa lakukan’ begitu bukan?. 

            Tergambarkan dengan jelas,  paras seseorang yang terkabarkan benar-benar mencintaiku dengan tulus.  Seseorang yang tak pernah ku toleh sedikit pun.  Siapa dia?  Se-lugu apa dia?  Apa dia benar-benar tak tahu kalau aku sudah terpikat dengan yang lain?.  Akhirnya aku tahu siapa dia.  Oh ternyata dia yang selama ini dikabarkan dengan berita-berita aneh dari mulut-mulut penyebar gosip?.  Awalnya aku yakin,  berita itu hanya sekilas omong kosong para penggosip.  Sampai akhirnya,  kau melakukan hal yang tak pernah ku duga.  Hal yang merapuhkan keyakinan ku tentang kepalsuan omong kosong itu.  Kau mengetahui segala hal yang aku suka.  Salah satu hal yang kau ketahui dengan perinci,  tentang kesukaan ku membaca buku.  Entah kau tahu darimana hal itu,  kau yang bilang begitu saja,  aku suka membaca buku komik,  komik tentang segala hal yang ber-genre action.  Terutama dengan Naruto,  salah satu tuku animasi yang biasa dijadikan cerita komik yang ku suka.  Kau membelikan  beberapa edisi komik Naruto yang belum pernah ku baca.  Beberapa itu tidak dapat ku sebut sedikit.   

Apa ini?  Mengeluarkan uang mu secara cuma-cuma hanya untuk seseorang seperti aku?.  Terlihat jelas,  seseorang yang di pikirannya hanya ada ‘game’,  sekarang lebih memilih mengeluarkan uang untuk bermain hany demi seseorang seperti ku?  Apa bisa ku sebut itu palsu?.  Ku pikir,  kau cukup berani untuk menyampaikannya langsung pada ku.  Sampai akhirnya,  buku-buku yang kau beli hanya menjadi barang rongsokan dirumah mu.  Tapi,  apa kau sadar?  Semua yang kau lakukan untuk ku,  tidak akan sanggup menerbangkan sosoknya dari hadapan ku.  Sesosok manusia yang membuat aku terlihat lugu dihadapannya.  Sesosok orang yang terus ku tatap setiap saat.  Maaf,  bukan aku memilih untuk acuh dengan mu,  aku hanya tak suka jika kamu terus seperti ini,  aku takut perasaan mu semakin menjadi seperti perasaan ku padanya.  Maaf,  bukannya aku bilang kamu kurang tulus,  namun,  ketulusanmu kurang kuat untuk membuat sesosok itu menyingkir dari tatapan ku.  Sekarang kamu sudah memiliki kekasih bukan?  Bahagia lah dengannya.  Jangan pernah kau coba untuk kembali mengingat ku.  Itu akan membuatmu terasa lebih membaik. 
           
Bukan ,  bukan hanya dia yang benar-benar tulus.  Masih ada beberapa orang lainnya yang terlihat tulus,  meskipun lebih banyak yang terlihat sangat tidak tulus.  Banyak hati yang aku acuhkan.  Mungkin aku seseorang yang bekerja sebagai pencabuk hati yang tak bersalah.  Tak ada yang dapat menggoyahkan perasaan ku saat ini.  Sekalipun kamu berubah menjadi penjahat yang mengerikan.  Aku akan tetap berada disamping mu.  Menjadi tempat bersandar ketika kau lelah,  meskipun aku tahu,  kamu tidak akan pernah lelah mengejar orang itu dan menyakiti perasaan ku.  Aku akan tetap berdiri disini,  di tempat ini.  Kasihan kamu,  mencintai seseorang yang tidak sepenuhnya mencintai mu,  itu hanya menyakitkan dirimu,  kau tak pantas mendapatkan ini

Banyak hal yang sejak awal aku tafsirkan mungkin berhasil.  Masih dalam tahap ‘mungkin’.  Tahap-tahap yang siapa saja bisa lakukan.  Seperti ocehan mereka “Haha, just like that? Hahahahaha.”  Siapa yang tak tahu?  Mereka mentertawakan apa yang menurut ku,  aku tak bisa lakukan.  Mereka merendahkan.  Mereka tak tahu apa-apa tentang bagaimana perasaannya jika menduduki posisi ku.  Bimbang.  Ingin meneruskan dan membiarkan perasaan ini mengalir begitu saja?  Membiarkan hati ini terus tersakiti?  Atau aku harus menghentikan ini semua disini?  Menyerah?  Menyiksa perasaan yang tertahan ini?  Aku bingung. 

Meskipun sudah ada yang tahu bagaimana rasanya,  karna dia benar-benar duduk di posisi ku.  Meskipun dia tidak terlihat bimbang sedikit pun.  Mungkin dia benar-benar tahu apa jalan yang harus dia ambil.  Dia ingin melakukannya,  dengan begitu dia bisa melakukannya.  Wajar saja menurut ku.  Aku sadar,  aku bukan tidak bisa melakukannya,  aku hanya tidak ingin melakukannya.  Berbincang dengan mu?  Apa yang selama ini aku kejar bisa aku lakukan begitu saja?  Apa dirimu yang membuat aku tertarik,  berubah menjadi orang yang membosankan?  Mungkin jika aku bisa berbincang dengan mu,  akan terasa menyenangkan,  tapi aku tahu,  tidak lama kemudian,  semua terasa hambar,  membosankan.  Tidak ada sesuatu yang harus aku kejar dari mu.  Melakukan suatu hal bersama mu?  Itu yang membuat semua ini menarik.  Menarik karna aku masih mengejarnya,  tidak ingin membuatnya menjadi nyata.  Sengaja atau tidak,  aku tidak ingin melakukannya terburu-buru.  Karna aku hanya membutuhkan mu disuatu dunia yang berbeda dengan dimensi ini.  Sesosok orang yang membantu ku melewati hal yang menurut ku kurang baik atau kurang menarik.  Seperti dulu.

Sekarang,  aku tahu kamu sudah berubah.  Kamu menjadi dewasa.  Kamu mengejar cinta.  Aku bangga dengan perubahan mu menjadi dewasa.  Namun aku kecewa,  seseuatu yang ku cinta berubah karna kedewasaan mu.  Aku tahu,  aku tidak membutuhkan dirimu yang dewasa ini,  aku butuh dirimu yang dulu,  yang ada setiap saat di dekat ku.  Sekalipun itu hanya yang ku rasa.  Sekarang seseorang yang menginginkan segalanya terjadi itu yang kau kejar.  Seseorang yang menjadi alasan mu tertawa.  Seseorang yang memberikan mu suatu hadiah,  seseorang yang menggenggam tangan mu,  seseorang yang...  Memberikan suatu hal yang tidak aku berikan kepada mu,  kebahagiaan.  Kau sadar?  Jika kau terus memberikan aku waktu untuk menikmati saat-saat aku mengejarmu,  mungkin,  seharusnya seseorang yang membuat mu tertawa atau seseorang yang menjadi alasan mu bahagia itu adalah aku,  seharusnya seseorang yang memberikan mu suatu hadiah tak terduga adalah aku,  seharusnya seseorang yang menggenggam tangan mu saat ini adalah aku,  seharusnya...  Seseorang yang membuat mu bahagia adalah aku.  That should be me.

Dulu,  aku tahu,  semua mungkin saja terjadi,  semua hal tanpa terkecuali.  Sekalipun itu berhubungan dengan mu.  Sampai akhirnya,  kamu yang menjadi alasan ku berkata ‘tidak mungkin’.  Memecahkan keyakinan ku.  Aku dengan mudahnya berkata ‘tidak mungkin’ dan tidak ingin melakukan.  Sudah menjadi ‘tidak mungkin’ semua ini.  Tapi...  Mengapa lagi-lagi,  kau juga yang merubah kata ‘tidak mungkin’ ini?  Ketika kau mulai menghilang dari kehidupan ku,  tidak ada jejak kau masih berada disini.  Namun,  tiba-tiba kau kembali muncul.  Menciptakan suasan itu lagi.  Kamu masih terlihat tidak jelas dan menjengkelkan seperti dulu,  dulu sekali.  Akhirnya aku berkata ‘mungkin’ kembali.  Maybe to impossible  and  impossible to maybe,  and next?  Who knows?.  I’ll be ready.