Kamis, 20 Juni 2013

Tidak Akan Pernah

            Halo,  apa kabar?.  Sekarang,  kita jarang interaksi,  ya.  Sekalipun interaksi,  itu sekedar basa-basi.  Seakan saling tak kenal.  Saat bertemu juga.  Hanya mata ku yang sibuk memperhatikan gerak-gerik mu seperti biasa.  Sedangkan kamu sibuk memperhatikan seseorang lain yang sibuk memperhatikan mu juga,  tapi bukan aku.  Senyummu,  yang terkadang kamu lemparkan begitu saja,  yang aku rasa hanya milikku seorang,  sekarang juga menjadi miliknya.  Seseorang lain itu.  Kabar mu,  yang setiap hari pasti aku ketahui,  sekarang kamu sebarkan untuknya.  Aku setengah mati mencari kabarmu disini.  Sedangkan seseorang itu kewalahan menjaga kabarmu yang berdatangan.  Satu hal yang aku sebut perhatian,  yang selau datang kepada ku dari dirimu itu,  sekarang berubah menjadi kasih sayang.  Namun bukan untuk ku,  lagi-lagi untuk orang itu.


            Aku rindu.  Aku rindu akan sosok mu yang terkadang aku dapatkan sedang memperhatikan ku.  Saat itu seakan mata kita beradu.  Hanya sekejap,  kamu membuang muka.  Begitu juga dengan aku.  Saat kamu berlalu,  aku hanya tersenyum lebar.  Wajah ku langsung terlihat sumringah.  Aku berharap tatapan ku dapat menyampaikan semua hal yang ku ingin katakan padamu secara tak langsung.  Sekarang,  tatapan itu hanya dan selalu tertuju untuk orang lain itu.  Dulu,  kamu terlihat membuang muka jika aku mendapatkan kamu yang memperhatikanku,  sekarang,  kamu justru terpaku menatapnya berlama-lama,  saat dia melihatmu,  kalian justru beradu mata selama beberapa waktu.  Indah,  namun bukan bersama ku.

            Aku rindu saat kamu melemparkan senyummu itu kepada ku.  Senyum yang aku rasa hanya aku yang memilikinya.  Saat aku melihat mu,  dan kamu yang menangkapku sedang memperhatikanmu,  terkadang,  kamu berlalu dengan senyuman.  Saat mata kita berlalu,  walau hanya sekejap,  aku melihat dengan jelas senyuman itu.  Senyuman yang merubah suasana dingin hujan menjadi suasana hangatnya mentari.  Senyum yang bagaikan dewa musim semi.  Sekarang,  dewa itu sedang bermain bersama senyum dewi mentari mu,  yaitu orang itu.  Saling bertegur sapa,  dan akhirnya dewa dan dewi itu bertemu.  Bahagia,  namun bukan bersamaku. 

            Aku rindu,  saat aku mengetahui kabarmu hanya dengan bertanya kecil.  Kamu menjawab dan menjelaskan kabar mu.  Dengan mudahnya aku mengetahui kabar seseorang yang menjadi pendendali tawa dan tangis ku.  Kabar dan keadaan mu,  tentunya ditempat yang berbeda dan cukup jauh dengan ku.  Aku tau hal itu setiap harinya.  Dari dirimu.  Sekarang,  butuh usaha ekstra keras untuk mencari kabarmu,  sangat jarang,  bahkan tak pernah lagi ku tau kabar mu disana.  Sekarang kabar-kabar itu berterbangan mencari orang itu.  Orang yang menjadi tujuan semua kabar mu itu.  Apa tidak berlebihan kamu memberikan kabar kepadanya?  Aku membutuhkan kabar mu.  Orang itu juga sibuk menerbangkan kabarnya untuk mu.  Senang,  namun bukan bersama ku.

            Aku rindu,  saat kamu melemparkan pertanyaan dan pernyataan yang dapat membuat ku tersenyum bahkan tertawa.  Lawakkan kecilmu yang terlihat seperti lawakkan kecil ayah ku.  Hangat.  aku merasa bahagia meski tak nyata.  Kamu terlihat hanya sedang melakukan hal itu untukku.  Seperti ayah ku yang sedang mencoba menghibur aku,  putri kecilnya.  Sekarang,  semua itu mungkin telah menjadi milik orang itu.  Sekarang dia tersenyum dan tertawa karna mu,  begitu juga mungkin dengan kamu.  Tertawa,  namun bukan bersama ku.

            Aku rindu dengan cara-caramu membuat aku penasaran setengah mati.  Padahal semua itu tak nyata.  Tapi aku benar-benar ingin tahu dan kamu membuat rasa ingin tahu itu semakin menjadi.  Kamu selalu menyuruhku untuk menebak semuanya,  aku selau tak bisa.  Sampai saat aku bisa menebaknya dengan cepat,  kamu bilang aku hebat.  Tapi saat itu hanya terjadi sekali,  selebihnya,  selalu kamu yang membuat aku penasaran,  dan menjawab rasa itu dengan beberapa hari setelahnya.  Sekarang,  kamu sibuk membuat dia ingin tahu akan hal apa?  Apa sama dengan hal yang kamu lakukan kepada ku?  Atau lebih dari yang kamu lakukan kepadaku?  Tentu kamu ingin menjadi yang lebih dari yang lama.  Hebat,  namun bukan untukku.

            Aku rindu caramu menakut-nakuti atau menenangkan ku.  Saat aku bilang aku takut,  langsung kamu menyergap dan membuat aku takut.  Dengan untaian kata-katamu.  Aku langsung takut begitu saja.  Kamu terus menakut-nakuti aku.  Aku seakan butuh seseorang yang menemani dan menangi aku,  yaitu kamu.  Setelah aku benar-benar takut,  akhirnya kamu menenangkan aku lagi.  Saat aku bilang,  aku nyaman setelah memikirkan mu,  kamu menyuruhku untuk terus memikirkan ku agar aku tenang.  Sekarang,  kamu memberikan perintah apa kepada orang itu agar dia tenang?  Atau kamu berikan perhatian sepenuhnya agar dia tenang?  Perhatian,  namun bukan untukku.

            Aku rindu saat kamu membuat aku menangis dan tersenyum.  Saat kamu mulai membuat lelucon yang menyakitkan hati ku,  aku mencoba sabar,  mencoba tegar,  tapi tetap saja butiran kristal air mata ini menetes juga.  Menjadi sungai.  Aku menjelaskan aku sedih dan tidak suka saat kamu berkata seperti itu.  Akhirnya kamu berjanji untuk tidak mengulanginya.  Kamu menghiburku,  kamu menjadi lucu untukku,  senyum ku kembali terlukis diwajah ini.  Kamu tersenyum dan aku tersenyum.  Sekarang,  kamu menjadi pengendali tangis dan senyumnya juga?  Tentu kamu tidak ingin dia menangis karna mu kan?  Karna kamu sayang dia kan?  Baik,  namun bukan untukku.

            Aku rindu saat kamu menjadi penyemangat ku ketika aku terjatuh.  Saat aku membutuhkan semangat baru,  agar aku dapat lebih baik dari suatu hal.  Kamu ada untuk memberikan aku semangat.  Kamu membuat ku benar-benar semangat.  Penyemangat hidupku.  Apa kamu juga menyemangatinya dengan hal yang sama atau lebih?  Aku yakin dia pasti lebih semangat dari aku.

            Sekarang,  semua rindu ini menjadi satu.  Aku benar-benar merindukan kamu yang dulu.  Kamu yang masih ada dan selalu ada untukku.  Aku sadar,  dunia itu berputar.  Sekarang saatnya sosok orang itu yang harus kau temani.  Tapi,  tidak  bisa kah kau tetap bertahan untukku?.  Mungkin aku tidak dapat memberikan apa yang ia berikan kepadamu.  Aku harus dewasa,  aku tau sekarang bukan saatnya untukku.  Aku sudah sempat bahagia bersamamu.  Meski hanya sekejap mata.  Aku berubah total setelah kamu lakukan perubahan itu.  Aku tetap siap menerima mu kembali kepada ku.  Kembali untuk menjadikan diriku satu-satunya tentunya,  karna aku masih merindukanmu.  Perlu kamu ketahui,  aku tidak pernah,  tidak akan,  dan tidak akan pernah merubah rasa sayang ini.  Halo,  setelah kamu jatuhkan dan tinggalkan aku.  Lagi-lagi aku tetap kembali berdiri tegak dengan harapan dan perasaan yang sama :).