Halo, apa
kabar?. Sekarang, kita jarang interaksi, ya.
Sekalipun interaksi, itu sekedar
basa-basi. Seakan saling tak kenal. Saat bertemu juga. Hanya mata ku yang sibuk memperhatikan
gerak-gerik mu seperti biasa. Sedangkan
kamu sibuk memperhatikan seseorang lain yang sibuk memperhatikan mu juga, tapi bukan aku. Senyummu,
yang terkadang kamu lemparkan begitu saja, yang aku rasa hanya milikku seorang, sekarang juga menjadi miliknya. Seseorang lain itu. Kabar mu,
yang setiap hari pasti aku ketahui,
sekarang kamu sebarkan untuknya.
Aku setengah mati mencari kabarmu disini. Sedangkan seseorang itu kewalahan menjaga kabarmu
yang berdatangan. Satu hal yang aku
sebut perhatian, yang selau datang
kepada ku dari dirimu itu, sekarang
berubah menjadi kasih sayang. Namun
bukan untuk ku, lagi-lagi untuk orang
itu.
Aku rindu. Aku
rindu akan sosok mu yang terkadang aku dapatkan sedang memperhatikan ku. Saat itu seakan mata kita beradu. Hanya sekejap, kamu membuang muka. Begitu juga dengan aku. Saat kamu berlalu, aku hanya tersenyum lebar. Wajah ku langsung terlihat sumringah. Aku berharap tatapan ku dapat menyampaikan
semua hal yang ku ingin katakan padamu secara tak langsung. Sekarang,
tatapan itu hanya dan selalu tertuju untuk orang lain itu. Dulu,
kamu terlihat membuang muka jika aku mendapatkan kamu yang
memperhatikanku, sekarang, kamu justru terpaku menatapnya
berlama-lama, saat dia melihatmu, kalian justru beradu mata selama beberapa
waktu. Indah, namun bukan bersama ku.
Aku rindu saat kamu melemparkan senyummu itu kepada
ku. Senyum yang aku rasa hanya aku yang
memilikinya. Saat aku melihat mu, dan kamu yang menangkapku sedang
memperhatikanmu, terkadang, kamu berlalu dengan senyuman. Saat mata kita berlalu, walau hanya sekejap, aku melihat dengan jelas senyuman itu. Senyuman yang merubah suasana dingin hujan
menjadi suasana hangatnya mentari.
Senyum yang bagaikan dewa musim semi.
Sekarang, dewa itu sedang bermain
bersama senyum dewi mentari mu, yaitu
orang itu. Saling bertegur sapa, dan akhirnya dewa dan dewi itu bertemu. Bahagia,
namun bukan bersamaku.
Aku rindu, saat
aku mengetahui kabarmu hanya dengan bertanya kecil. Kamu menjawab dan menjelaskan kabar mu. Dengan mudahnya aku mengetahui kabar
seseorang yang menjadi pendendali tawa dan tangis ku. Kabar dan keadaan mu, tentunya ditempat yang berbeda dan cukup jauh
dengan ku. Aku tau hal itu setiap
harinya. Dari dirimu. Sekarang,
butuh usaha ekstra keras untuk mencari kabarmu, sangat jarang, bahkan tak pernah lagi ku tau kabar mu
disana. Sekarang kabar-kabar itu
berterbangan mencari orang itu. Orang
yang menjadi tujuan semua kabar mu itu.
Apa tidak berlebihan kamu memberikan kabar kepadanya? Aku membutuhkan kabar mu. Orang itu juga sibuk menerbangkan kabarnya
untuk mu. Senang, namun bukan bersama ku.
Aku rindu, saat
kamu melemparkan pertanyaan dan pernyataan yang dapat membuat ku tersenyum
bahkan tertawa. Lawakkan kecilmu yang
terlihat seperti lawakkan kecil ayah ku.
Hangat. aku merasa bahagia meski
tak nyata. Kamu terlihat hanya sedang
melakukan hal itu untukku. Seperti ayah
ku yang sedang mencoba menghibur aku,
putri kecilnya. Sekarang, semua itu mungkin telah menjadi milik orang
itu. Sekarang dia tersenyum dan tertawa
karna mu, begitu juga mungkin dengan
kamu. Tertawa, namun bukan bersama ku.
Aku rindu dengan cara-caramu membuat aku penasaran
setengah mati. Padahal semua itu tak
nyata. Tapi aku benar-benar ingin tahu
dan kamu membuat rasa ingin tahu itu semakin menjadi. Kamu selalu menyuruhku untuk menebak
semuanya, aku selau tak bisa. Sampai saat aku bisa menebaknya dengan cepat, kamu bilang aku hebat. Tapi saat itu hanya terjadi sekali, selebihnya,
selalu kamu yang membuat aku penasaran,
dan menjawab rasa itu dengan beberapa hari setelahnya. Sekarang,
kamu sibuk membuat dia ingin tahu akan hal apa? Apa sama dengan hal yang kamu lakukan kepada
ku? Atau lebih dari yang kamu lakukan
kepadaku? Tentu kamu ingin menjadi yang
lebih dari yang lama. Hebat, namun bukan untukku.
Aku rindu caramu menakut-nakuti atau menenangkan ku. Saat aku bilang aku takut, langsung kamu menyergap dan membuat aku
takut. Dengan untaian kata-katamu. Aku langsung takut begitu saja. Kamu terus menakut-nakuti aku. Aku seakan butuh seseorang yang menemani dan
menangi aku, yaitu kamu. Setelah aku benar-benar takut, akhirnya kamu menenangkan aku lagi. Saat aku bilang, aku nyaman setelah memikirkan mu, kamu menyuruhku untuk terus memikirkan ku
agar aku tenang. Sekarang, kamu memberikan perintah apa kepada orang itu
agar dia tenang? Atau kamu berikan
perhatian sepenuhnya agar dia tenang?
Perhatian, namun bukan untukku.
Aku rindu saat kamu membuat aku menangis dan
tersenyum. Saat kamu mulai membuat
lelucon yang menyakitkan hati ku, aku
mencoba sabar, mencoba tegar, tapi tetap saja butiran kristal air mata ini
menetes juga. Menjadi sungai. Aku menjelaskan aku sedih dan tidak suka saat
kamu berkata seperti itu. Akhirnya kamu
berjanji untuk tidak mengulanginya. Kamu
menghiburku, kamu menjadi lucu
untukku, senyum ku kembali terlukis
diwajah ini. Kamu tersenyum dan aku
tersenyum. Sekarang, kamu menjadi pengendali tangis dan senyumnya
juga? Tentu kamu tidak ingin dia
menangis karna mu kan? Karna kamu sayang
dia kan? Baik, namun bukan untukku.
Aku rindu saat kamu menjadi penyemangat ku ketika aku
terjatuh. Saat aku membutuhkan semangat
baru, agar aku dapat lebih baik dari
suatu hal. Kamu ada untuk memberikan aku
semangat. Kamu membuat ku benar-benar semangat. Penyemangat hidupku. Apa kamu juga menyemangatinya dengan hal yang
sama atau lebih? Aku yakin dia pasti
lebih semangat dari aku.
Sekarang, semua
rindu ini menjadi satu. Aku benar-benar
merindukan kamu yang dulu. Kamu yang
masih ada dan selalu ada untukku. Aku
sadar, dunia itu berputar. Sekarang saatnya sosok orang itu yang harus
kau temani. Tapi, tidak
bisa kah kau tetap bertahan untukku?.
Mungkin aku tidak dapat memberikan apa yang ia berikan kepadamu. Aku harus dewasa, aku tau sekarang bukan saatnya untukku. Aku sudah sempat bahagia bersamamu. Meski hanya sekejap mata. Aku berubah total setelah kamu lakukan perubahan
itu. Aku tetap siap menerima mu kembali
kepada ku. Kembali untuk menjadikan
diriku satu-satunya tentunya, karna aku
masih merindukanmu. Perlu kamu
ketahui, aku tidak pernah, tidak akan,
dan tidak akan pernah merubah rasa sayang ini. Halo,
setelah kamu jatuhkan dan tinggalkan aku. Lagi-lagi aku tetap kembali berdiri tegak
dengan harapan dan perasaan yang sama :).