Sekarang
ini musim semi. Musim dimana dapat
terlihat berbagai macam bunga bermekaran.
Bunga sakura yang mendominasi musim semi kali ini. Saat melewati taman yang indah itu setelah
lelah belajar di suatu universitas yang saat aku SMA merupakan universitas
idamanku. Memetik satu bunga dan aku
hirup harumnya bunga itu. Terasa
segar, tapi aku sadar, dia tidak akan sesegar dulu sebelum aku
sentuh dan aku petik. Tidak lama lagi
dia akan mati layu karna aku petik. Apa
aku mengganggu yang mungkin saja dia sedang bermain asyik bersama bunga yang
lain?. Aku tidak menghiraukannya.
Sampai saat aku melihat satu bunga
sakura yang jatuh dari pohonnya.
Tunggu, seharusnya tidak ada yang
gugur, melainkan mereka bersemi. Tumbuh.
Bukan gugur dan jatuh. Kenapa dia
jatuh disaat yang lagi sedang bertumbuh.
Aku dapat melihat jelas ada suatu bayang yang terbesit sejenak di otak
ku, namun aku coba lupakan. Segera aku pungut bunga sakura yang masih
terlihat segar itu. Aku helus kelopaknya
yang terasa sangat halus. Berwarna merah
jambu, yang mungkin siapa saja ingin
memilikinya. Aku melanjutkan perjalan
aku mengelilingi taman kota.
Saat sedang menikmati perjalanan di
Taman, bayang-bayang ingatan ku mengarah
pada suatu hal. Hal yang merupakan
menjadi pengalaman paling mengesankan dalam hidupku. Yang terjadi benar-benar hanya 1 kali dalam
hidupku selama ini. Namun membuat sesak
di dada untuk diingat. Sudah ku cegah
agar ingatan itu tak terlalu jauh bernostalgia.
Namun apa daya? Saraf-saraf
diotak ku merindukan saat-saat mereka merenggang untuk memutar memori itu. Aku duduk disebuah bangku panjang di Taman
itu.
Kamu yang saat itu mengajakku
berjalan-jalan di Taman kota saat kita SMA.
Kita yang saat itu masih berstatuskan teman terlihat sangat menikmati
perjalanan. Aku sendiri belum pernah
pergi ke Taman itu. Saat itu bukan musim
semi, namun musim gugur. ‘Mungkin enggak ya, aku bakalan gugur bersama bunga-bunga indah
ini? Sembari menikmati bayang-bayang
indah selama aku hidup.’ Terlihat kamu
begitu serius namun tetap diiringi dengan senyum manis mu. ‘Ah apa-apaan kamu, mungkin aja kamu gugur saat bunga ini
bersemi?.’ Aku mencoba mengajak mu
tertawa. Pemandangan saat bunga-bunga
sedang sibuk menjatuhkan diri mereka ke tanah,
tidak rela memang, tapi mereka
coba ikhlaskan demi menjalankan takdir.
Tiba-tiba saja kamu meraih tangan
ku. Aku yang terlihat sangat polos dan
lugu saat itu tidak mengerti apa yang kamu lakukan. Kamu menatapku dengan tajam sembari mengelus
rambut panjang ku yang terkuncir dengan ikat polkadot shushu. ‘Aku lelah berpura-pura tahan hanya sekedar
menjadi teman mu. Aku butuh lebih. Aku mencintaimu. Kenapa kamu tidak pernah menyadarinya? Ini kasih sayang dari cinta seorang
kekasih, bukan seorang teman.’ Kata mu serius dengan tetap menatap ku
tajam. Aku tidak tahu harus berbuat
apa. Aku menunduk. ‘Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang
ini?.’ Aku bertanya dengan
polosnya. ‘Jadilah bagian dari
hidupku. Warnai waktu-waktu ku. Aku mohon.’
Aku sangat kaget bukan kepalang ketika mendengar kamu mengeluarkan kata
permohonan seperti itu sembari semakin mengeraskan remasan tanganmu. Aku mengangguk pelan. Kamu terlihat tersenyum sama seperti ku. Saat itu kita sudah memiiki hubungan
spesial. Kamu terlihat mengangkat dagu
ku. Aku tetap berusaha menundukku. Namun kamu paksa aku untuk beradu tatap
dengan mu. Kamu dekatkan bibir mu ke
bibir merah kecil dan mungil ku.
Sehingga menjadi satu ciuman pertama kita. Ciuman seorang kekasih.
Kamu angkat tubuhku yang mungil
sehingga terlihat kau seperti sedang menerbangkan ku. Aku tertawa melihat muka mu yang manis sedang
mengendong diriku. Saat kau turunkan
aku. Aku mendengar suara batukkan dari
mu. Yang terdengar menyakitkan. Membuat leher ku terasa tersayat. Aku bertanya,
‘apa kau baik-baik saja? Ayo kita
pulang.’. Kau mengangguk dengan cepat
dan pasti. Menarik tanganku dan berjalan
disampingku. Terlihat sebagai
pelindungku.
Beberapa bulan telah berlalu. Kita melewati semuanya bersama. Kamu yang terlihat semakin kurus dan
melemah. Katamu hanya karna kurang
istirahat dan kurang makan. Aku berusaha
terus percaya padamu. Musim semi pun
tiba. Aku hanya perlu menunggu bunga
bermekaran. Berharap kamu dapat
meluangkan waktu untuk mengajakku ke Taman kota untuk melihat bunga yang
bermekaran.
Aku
meminta sekaligus memohon kepadamu untuk menemui ku di Taman kota esok hari
puku 02.00 siang. Maaf aku tidak bisa
bertemu sekaligus berkomunikasi dengan mu.
Aku sedang tidak enak badan.
Besok aku sudah pulih. Aku
merindukan mu.
Pesan singkat yang kau kirimkan
padaku melalui ponsel mu. Aku
heran. Kenapa kamu begitu terasa aneh
setiap harinya?. Apa karna aku terlalu
dalam merasakan mu?. Aku selalu menjadi
perasa ketika bersama orang yang ku cintai.
Esok hari aku datang ke Taman tepat
pada saat yang kau janjikan. Aku melihat
mu sedang menunggu dengan jaket tebal dihari musim semi ini. ‘sekarang musim semi, kenapa kamu menggunakan jaket tebal? Enggak panas?.’ Tanyaku padamu. Kamu hanya tersenyum kecil dan
menggeleng. Aku bernostalgia saat
beberapa bulan lalu kau menyatakan cintamu padaku ditempat ini. Aku yang malu-malu menerima mu. Pertama kalinya aku diajak ke Taman oleh
seorang teman sekaligus kekasih. Aku
ceritakan semuanya kepada mu. Kamu hanya
terlihat tersenyum dan tersenyum.
Senyumanmu yang selalu membuat aku memelukmu dengan erat.
Tak terasa. Sudah sore.
Aku sudah haru ada dirumah untuk menjaga adik-adikku. Saatnya kita berpisah. Aku tidak pernah mau berpisah dengan mu walau
hanya beberapa detik saja. Tapi aku
tahu, kita punya dunia
masing-masing. ‘Jaga kesehatan kamu
setiap harinya ya. Jaga pola makan
juga. Jaga adik-adik kamu dengan
benar. Kamu harus belajar dengan giat
untuk masuk ke universitas idamanmu.
Jaga hatimu selalu juga ya,
untukku. Hanya untukku. Aku tidak memaksamu untuk berjanji. Aku sayang kamu.’ Kamu langsung mencium bibirku. Aku membalasnya. Kamu memelukku dengan erat. Aku juga.
Kamu menggenggam tanganku dengan erat sembari mengluarkan buliran air
mata. Aku heran. Aku bertanya ‘Mengapa sayangku? Kamu terlihat aneh, seakan-akan ingin berpisah dengan ku untuk
selamanya saja. Aku juga sayang
kamu. Aku yang lebih menyayangimu.’ kamu hanya tersenyum dan menggeleng seperti
awal kita bertemu di Taman hari ini. Kamu
menyuruhku pulang duluan. Kamu ingin
bertetap di Taman. Aku terpaksa harus
pulang tanpa genggaman dan pelukan dari mu.
Sepanjang perjalanan aku hanya memikirkan tentang sikapmu yang aneh.
Saat malam hari, ibu mu menelepon aku sambil berkata ‘Esok
hari, jika bisa kau datang ya, nak.
Ibu memohon kepada mu. Sudah ya. Itu saja.’
Ibu mu langsung mematikan telepon begitu saja. Aku benar-benar bingung malam itu. Suara ibu mu terdengar seperti
tersedu-sedu. Aku bingung. Saat aku diatas tempat tidur, aku merasa aneh. Aku merasa begitu tenang namun
terganggu. Aku merasa ingin menangis tanpa alasan yang jelas. Lalu tanpa ku sadari air mata ku terjatuh
begitu saja. Aku terus menangis sampai
akhirnya aku tertidur pulas.
Esok hari tepat pukul 09.00 pagi aku
sudah ada didepan rumah mu. Terlihat
banyak warga memakai kimono datang ke tempat mu. Ada acara penting apa ini?. Saat aku masuk. Aku melihat jasatmu tertidur pulas didepan
ibu mu. Jantungku serasa berhenti berdetak. Aku terjatuh.
Lalu aku menangis. Aku tahu. Kau tertidur untuk selamanya. Aku terus menangis terisak bersama ibu
mu. Ibu mu mencoba menenangkan ku
sembari memberikan ku secarik kertas putih.
Ku buka, lalu ku baca...
‘Hai sayang, akhirnya kamu buka juga surat ini. Aku sudah menunggu saat ini. Berat sebenarnya bagi ku. Tapi aku senang. Benar kata mu, aku gugur saat yang lain sedang
bermekaran. Aku terlihat lemah. Namun aku sadar, aku bukan lemah. Disaat aku seharusnya gugur, tetapi aku bertahan demi seseorang yang
memang seharusnya ku pertahankan. Hingga
aku benar-benar tidak kuat lagi. Pesan
ku sudah aku sampaikan langsung kepada mu kemarin kan? Itu saja pesan ku. Jaga diri baik-baik ya. Jangan sampai mudah tersakiti oleh hal-hal
yang tidak penting. Kemarin adalah
ciuman, pelukan, sekaligus genggaman terakhir kita. Aku sangat bangga dapat berakhir
bahagia. Aku mencintaimu. Jaga dirimu baik-baik ya.’ Aku semakin menjerit. Saat pemakaman mu tiba, aku yang sangat sibuk menjerit. Ibu mu sudah dapat mengikhlaskan. Aku tidak.
Aku belum siap. Kamu meninggalkan
langsung.
Beberapa tahun berlalu. Aku tetap hidup dengan bayangmu tanpa
siapapun disis ku sekarang ini. Tetap
berharap kamu tahu apa yang aku rasakan.
Setiap kali aku datang ke Taman ini.
Memori itu akan terputar. Aku
rindu semua panggung dari awal kita berperan.
Aku rindu. Sangat rindu. Kini
kamu tinggal menjadi kenangan indah yang aku punya. Semua memori bersamamu di tempat ini, masih sangat melekat di benakku.
Sampai akhirnya ada seorang
laki-laki yang menepuk pundakku dan memberikan ku sapu tangan. Aku tidak mengenalnya siapa. Namun aku begitu merasa hangat
didekatnya. Ternyata air mata ku sudah
mendera daritadi. Hanya dia yang
melihatku. Aku menghapus air
mataku. Dia mengajakku berkenalan dengan duduk di banku panjang di Taman itu bersama ku
dan memberikan ku sebuah kebab dari Brazil yang dijual didekat Taman itu.
Mengapa? Mengapa aku merasa begitu nyaman berada
disamping orang ini?. Aku seakan
menemukan sesosok orang yang menjadi perisai ku. Aku sudah tidak begitu memikirkan mu
lagi. Seakan aku sudah ikhlas dengan
semua ini. Sampai akhirnya aku diantarkan
dia pulang ke Apartemen tempat tinggal ku sekarang ini. ‘Hati-hati ya. Kamu cantik hari ini.’. Katanya padaku. Sampai akhirnya aku sadar, aku menemukan seseorang yang menduduki posisi
mu dahulu sayang. Dia yang akan segera
mengisi kesepian hati ku. Apa kamu yang
mengirim seseorang ini padaku?.
Terimakasih. Aku tetap
menyayangimu. Meskipun kita berbeda dunia. Malaikat
pelindung ku.