Sabtu, 01 Juni 2013

Musim Semi


                Sekarang ini musim semi.  Musim dimana dapat terlihat berbagai macam bunga bermekaran.  Bunga sakura yang mendominasi musim semi kali ini.  Saat melewati taman yang indah itu setelah lelah belajar di suatu universitas yang saat aku SMA merupakan universitas idamanku.  Memetik satu bunga dan aku hirup harumnya bunga itu.  Terasa segar,  tapi aku sadar,  dia tidak akan sesegar dulu sebelum aku sentuh dan aku petik.  Tidak lama lagi dia akan mati layu karna aku petik.  Apa aku mengganggu yang mungkin saja dia sedang bermain asyik bersama bunga yang lain?.  Aku tidak menghiraukannya.


            Sampai saat aku melihat satu bunga sakura yang jatuh dari pohonnya.  Tunggu,  seharusnya tidak ada yang gugur,  melainkan mereka bersemi.  Tumbuh.  Bukan gugur dan jatuh.  Kenapa dia jatuh disaat yang lagi sedang bertumbuh.  Aku dapat melihat jelas ada suatu bayang yang terbesit sejenak di otak ku,  namun aku coba lupakan.  Segera aku pungut bunga sakura yang masih terlihat segar itu.  Aku helus kelopaknya yang terasa sangat halus.  Berwarna merah jambu,  yang mungkin siapa saja ingin memilikinya.  Aku melanjutkan perjalan aku mengelilingi taman kota.

            Saat sedang menikmati perjalanan di Taman,  bayang-bayang ingatan ku mengarah pada suatu hal.  Hal yang merupakan menjadi pengalaman paling mengesankan dalam hidupku.  Yang terjadi benar-benar hanya 1 kali dalam hidupku selama ini.  Namun membuat sesak di dada untuk diingat.  Sudah ku cegah agar ingatan itu tak terlalu jauh bernostalgia.  Namun apa daya?  Saraf-saraf diotak ku merindukan saat-saat mereka merenggang untuk memutar memori itu.  Aku duduk disebuah bangku panjang di Taman itu.

            Kamu yang saat itu mengajakku berjalan-jalan di Taman kota saat kita SMA.  Kita yang saat itu masih berstatuskan teman terlihat sangat menikmati perjalanan.  Aku sendiri belum pernah pergi ke Taman itu.  Saat itu bukan musim semi,  namun musim gugur.  ‘Mungkin enggak ya,  aku bakalan gugur bersama bunga-bunga indah ini?  Sembari menikmati bayang-bayang indah selama aku hidup.’  Terlihat kamu begitu serius namun tetap diiringi dengan senyum manis mu.  ‘Ah apa-apaan kamu,  mungkin aja kamu gugur saat bunga ini bersemi?.’  Aku mencoba mengajak mu tertawa.  Pemandangan saat bunga-bunga sedang sibuk menjatuhkan diri mereka ke tanah,  tidak rela memang,  tapi mereka coba ikhlaskan demi menjalankan takdir. 

            Tiba-tiba saja kamu meraih tangan ku.  Aku yang terlihat sangat polos dan lugu saat itu tidak mengerti apa yang kamu lakukan.  Kamu menatapku dengan tajam sembari mengelus rambut panjang ku yang terkuncir dengan ikat polkadot shushu.  ‘Aku lelah berpura-pura tahan hanya sekedar menjadi teman mu.  Aku butuh lebih.  Aku mencintaimu.  Kenapa kamu tidak pernah menyadarinya?  Ini kasih sayang dari cinta seorang kekasih,   bukan seorang teman.’  Kata mu serius dengan tetap menatap ku tajam.  Aku tidak tahu harus berbuat apa.  Aku menunduk.  ‘Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang ini?.’  Aku bertanya dengan polosnya.  ‘Jadilah bagian dari hidupku.  Warnai waktu-waktu ku.  Aku mohon.’  Aku sangat kaget bukan kepalang ketika mendengar kamu mengeluarkan kata permohonan seperti itu sembari semakin mengeraskan remasan tanganmu.  Aku mengangguk pelan.  Kamu terlihat tersenyum sama seperti ku.  Saat itu kita sudah memiiki hubungan spesial.  Kamu terlihat mengangkat dagu ku.  Aku tetap berusaha menundukku.  Namun kamu paksa aku untuk beradu tatap dengan mu.  Kamu dekatkan bibir mu ke bibir merah kecil dan mungil ku.  Sehingga menjadi satu ciuman pertama kita.  Ciuman seorang kekasih. 

            Kamu angkat tubuhku yang mungil sehingga terlihat kau seperti sedang menerbangkan ku.  Aku tertawa melihat muka mu yang manis sedang mengendong diriku.  Saat kau turunkan aku.  Aku mendengar suara batukkan dari mu.  Yang terdengar menyakitkan.  Membuat leher ku terasa tersayat.  Aku bertanya,  ‘apa kau baik-baik saja?  Ayo kita pulang.’.  Kau mengangguk dengan cepat dan pasti.  Menarik tanganku dan berjalan disampingku.  Terlihat sebagai pelindungku.

            Beberapa bulan telah berlalu.  Kita melewati semuanya bersama.  Kamu yang terlihat semakin kurus dan melemah.  Katamu hanya karna kurang istirahat dan kurang makan.  Aku berusaha terus percaya padamu.  Musim semi pun tiba.  Aku hanya perlu menunggu bunga bermekaran.  Berharap kamu dapat meluangkan waktu untuk mengajakku ke Taman kota untuk melihat bunga yang bermekaran. 

            Aku meminta sekaligus memohon kepadamu untuk menemui ku di Taman kota esok hari puku 02.00 siang.  Maaf aku tidak bisa bertemu sekaligus berkomunikasi dengan mu.  Aku sedang tidak enak badan.  Besok aku sudah pulih.  Aku merindukan mu.

            Pesan singkat yang kau kirimkan padaku melalui ponsel mu.  Aku heran.  Kenapa kamu begitu terasa aneh setiap harinya?.  Apa karna aku terlalu dalam merasakan mu?.  Aku selalu menjadi perasa ketika bersama orang yang ku cintai.

            Esok hari aku datang ke Taman tepat pada saat yang kau janjikan.  Aku melihat mu sedang menunggu dengan jaket tebal dihari musim semi ini.  ‘sekarang musim semi,  kenapa kamu menggunakan jaket tebal?  Enggak panas?.’  Tanyaku padamu.  Kamu hanya tersenyum kecil dan menggeleng.  Aku bernostalgia saat beberapa bulan lalu kau menyatakan cintamu padaku ditempat ini.  Aku yang malu-malu menerima mu.  Pertama kalinya aku diajak ke Taman oleh seorang teman sekaligus kekasih.  Aku ceritakan semuanya kepada mu.  Kamu hanya terlihat tersenyum dan tersenyum.  Senyumanmu yang selalu membuat aku memelukmu dengan erat. 

            Tak terasa.  Sudah sore.  Aku sudah haru ada dirumah untuk menjaga adik-adikku.  Saatnya kita berpisah.  Aku tidak pernah mau berpisah dengan mu walau hanya beberapa detik saja.  Tapi aku tahu,  kita punya dunia masing-masing.  ‘Jaga kesehatan kamu setiap harinya ya.  Jaga pola makan juga.  Jaga adik-adik kamu dengan benar.  Kamu harus belajar dengan giat untuk masuk ke universitas idamanmu.  Jaga hatimu selalu juga ya,  untukku.  Hanya untukku.  Aku tidak memaksamu untuk berjanji.  Aku sayang kamu.’  Kamu langsung mencium bibirku.  Aku membalasnya.  Kamu memelukku dengan erat.  Aku juga.  Kamu menggenggam tanganku dengan erat sembari mengluarkan buliran air mata.  Aku heran.  Aku bertanya ‘Mengapa sayangku?  Kamu terlihat aneh,  seakan-akan ingin berpisah dengan ku untuk selamanya saja.   Aku juga sayang kamu.  Aku yang lebih menyayangimu.’  kamu hanya tersenyum dan menggeleng seperti awal kita bertemu di Taman hari ini.   Kamu menyuruhku pulang duluan.  Kamu ingin bertetap di Taman.  Aku terpaksa harus pulang tanpa genggaman dan pelukan dari mu.  Sepanjang perjalanan aku hanya memikirkan tentang sikapmu yang aneh.

            Saat malam hari,  ibu mu menelepon aku sambil berkata ‘Esok hari,  jika bisa kau datang ya,  nak.   Ibu memohon kepada mu.  Sudah ya.  Itu saja.’  Ibu mu langsung mematikan telepon begitu saja.  Aku benar-benar bingung malam itu.  Suara ibu mu terdengar seperti tersedu-sedu.  Aku bingung.  Saat aku diatas tempat tidur,  aku merasa aneh.  Aku merasa begitu tenang namun terganggu.  Aku merasa ingin menangis  tanpa alasan yang jelas.  Lalu tanpa ku sadari air mata ku terjatuh begitu saja.  Aku terus menangis sampai akhirnya aku tertidur pulas.

            Esok hari tepat pukul 09.00 pagi aku sudah ada didepan rumah mu.  Terlihat banyak warga memakai kimono datang ke tempat mu.  Ada acara penting apa ini?.  Saat aku masuk.  Aku melihat jasatmu tertidur pulas didepan ibu mu.  Jantungku serasa berhenti berdetak.  Aku terjatuh.  Lalu aku menangis.  Aku tahu.  Kau tertidur untuk selamanya.  Aku terus menangis terisak bersama ibu mu.  Ibu mu mencoba menenangkan ku sembari memberikan ku secarik kertas putih.  Ku buka,  lalu ku baca...

            ‘Hai sayang,  akhirnya kamu buka juga surat ini.  Aku sudah menunggu saat ini.  Berat sebenarnya bagi ku.  Tapi aku senang.  Benar kata mu,  aku gugur saat yang lain sedang bermekaran.  Aku terlihat lemah.  Namun aku sadar,  aku bukan lemah.  Disaat aku seharusnya gugur,  tetapi aku bertahan demi seseorang yang memang seharusnya ku pertahankan.  Hingga aku benar-benar tidak kuat lagi.  Pesan ku sudah aku sampaikan langsung kepada mu kemarin kan?  Itu saja pesan ku.  Jaga diri baik-baik ya.  Jangan sampai mudah tersakiti oleh hal-hal yang tidak penting.  Kemarin adalah ciuman,  pelukan,  sekaligus genggaman terakhir kita.  Aku sangat bangga dapat berakhir bahagia.  Aku mencintaimu.  Jaga dirimu baik-baik ya.’  Aku semakin menjerit.  Saat pemakaman mu tiba,  aku yang sangat sibuk menjerit.  Ibu mu sudah dapat mengikhlaskan.  Aku tidak.  Aku belum siap.  Kamu meninggalkan langsung. 

            Beberapa tahun berlalu.  Aku tetap hidup dengan bayangmu tanpa siapapun disis ku sekarang ini.  Tetap berharap kamu tahu apa yang aku rasakan.  Setiap kali aku datang ke Taman ini.  Memori itu akan terputar.  Aku rindu semua panggung dari awal kita berperan.  Aku rindu.  Sangat rindu.  Kini kamu tinggal menjadi kenangan indah yang aku punya.  Semua memori bersamamu di tempat ini,  masih sangat melekat di benakku.

            Sampai akhirnya ada seorang laki-laki yang menepuk pundakku dan memberikan ku sapu tangan.  Aku tidak mengenalnya siapa.  Namun aku begitu merasa hangat didekatnya.  Ternyata air mata ku sudah mendera daritadi.  Hanya dia yang melihatku.  Aku menghapus air mataku.  Dia mengajakku berkenalan dengan duduk di banku panjang di Taman itu bersama ku dan memberikan ku sebuah kebab dari Brazil yang dijual didekat Taman itu. 

            Mengapa?  Mengapa aku merasa begitu nyaman berada disamping orang ini?.  Aku seakan menemukan sesosok orang yang menjadi perisai ku.  Aku sudah tidak begitu memikirkan mu lagi.  Seakan aku sudah ikhlas dengan semua ini.  Sampai akhirnya aku diantarkan dia pulang ke Apartemen tempat tinggal ku sekarang ini.  ‘Hati-hati ya.  Kamu cantik hari ini.’.  Katanya padaku.  Sampai akhirnya aku sadar,  aku menemukan seseorang yang menduduki posisi mu dahulu sayang.  Dia yang akan segera mengisi kesepian hati ku.  Apa kamu yang mengirim seseorang ini padaku?.  Terimakasih.  Aku tetap menyayangimu.  Meskipun kita berbeda dunia.  Malaikat pelindung ku.