Rabu, 29 Mei 2013

1070 kata

                Lucu ya kalau ingat bagaimana cara kita kenalan.  Aku yang terlihat sok tahu tentang dirimu dan kamu yang terlihat benar-benar polos dan lugu.  Cara kita bercakap-cakap lewat jejaring sosial.  Kamu yang enggak perlu waktu lama buat bikin aku luluh dan nyaman.  3-4 bahkan 5 jam kita bercakap lewat internet,  waktu yang lama untuk teleponan bagi orang biasa,  namun tidak untuk kita,  mungkin kita bukan orang yang biasa.  Terkadang senyum diwajah ini suka terkembang begitu saja ketika kamu membuat lelucon kecil,  ataupun cemberut yang mendadak ketika kamu membuat aku kesal ataupun penasaran.  Rasa nyaman yang amat sangat kau ciptakan begitu saja tanpa butuh waktu lama.  Bagaimana bisa semua itu berjalan dengan sangat lama setiap harinya?  Sampai aku sadar,  aku ada didalam cinta bersama mu.


            Terus berjalan,  hingga suatu saat kamu membuat air mata ini terjatuh karna mu.  Tak kusangka kamu juga dapat menciptakan tetesan air mata yang mengalir di pipi ini.  Padahal tak ada yang nyata,  semua hanya rangkaian kata yang mungkin salah kamu rangkai.  Namun lagi-lagi lelucon kecil mu membuat aku tersenyum kembali.  Saat itu juga aku tau kamu itu pengendali senyum dan tawa ku.  Semua itu ada di tangan mu.  Lucu.  Kamu langsung membuat aku terpukau dengan segala hal yang kamu lakukan kepada ku. 

            Kita yang di dunia palsu itu terlihat seperti nyata dan abadi,  namun berbeda untuk di dunia nyata,  kita justru terlihat seperti bayang-bayang semu.  Aku hanya dapat menatap mu ketika kau berjalan menuju toilet,  kelas,  ruang guru,  ataupun tempat lainnya.  Menatap mu secara tajam yang seakan menyampaikan pesan bahwa aku punya rasa yang disebut cinta untuk mu.  Namun kenapa kau tak kunjung mengerti?  Ya aku tahu,  aku yang salah.  Ketika aku menatap mu,  kamu dalam keadaan sedang sibuk dengan kegiatan yang lain,  ketika matamu menatap balik ke arah mata ku,  aku langsung membuang pandangan ku.  Sedikit saja pandangan mu yang aku lihat,  membuat sebuah getaran besar di dada,  sampai aku merasakan akan mati mendadak jika menatapnya terlalu lama.  Pantas kamu tak mengerti arti tatapan ku,  saat kau mendapatkan kesempatan dan berusaha mengartikan,  aku justru menutup kesempatan kamu itu.  Mungkin aku akan berani dan kuat memberikan mu kesempatan penuh untuk mengartikan tatapan ku,  namun tidak untuk sekarang.

            Berbincang seperti pasangan kekasih yang lain,  yang kita lihat sehari-harinya.  Berbincang,  canda tawa,  mereka seperti berada dalam ikatan yang membahagiakan.  Sedangkan aku?  Jangankan untuk berbincang dengan mu,  menatap mu saja aku tak kuasa.  Banyak sekali peluang yang datang kepada ku untuk dapat berbincang dengan mu,  namun apa?  Aku tak sanggup.  Aku justru membiarkan dan pasrah saat kamu malah berbicara dengan yang lain.  Seperti teriris rasanya hati ini ketika melihat mu hanya sekedar berbincang dengan kawan ku.  Setiap kamu menatap yang lain,  seakan-akan kamu menunjukkan rasa dan kehangatan untuk mereka,  apa memang kamu orang yang perasa?.  Saat kamu berusaha mengajakku berbincang,  saat itu saja,  rasanya jantungku berdegub kencang sekali dan ingin keluar menumpahkan semua isi darahnya dimana-mana.  Aku hanya dapat menahan senyuman dan tetap berusaha untuk terlihat keren di depan mu.  Sampai-sampai kamu bilang aku culun bahkan pecundang.  Sakit.  Seandainya kamu tahu apa yang kurasa.  Kamu terlalu indah untuk aku ajak bicara.

            Sampai akhirnya orang itu datang,  datang kemari menghampiri ‘kita’.  Aku tak tahu apa yang akan ia lakukan,  aku fikir ia orang baik yang akan membantu penyempurnaan kata ‘kita’ sekarang ini.  Kamu juga butuh teman selain aku,  aku juga enggak ada hak buat melarang kamu.  Akhirnya aku mempersilahkan orang itu datang bermain bersama kita.  Asyik.  Meskipun terlihat perhatian mu terbagi dua,  tidak hanya untukku,  namun juga untuk diri yang lain. 

            Semakin lama,  perhatian mu semakin memudar.  Kamu semakin dekat dengannya.  Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan.  Ingin memecahkannya,  menghancurkan interaksi antara kamu dengannya agar aku bisa kembali aktif berinteraksi dengan mu,  namun apa daya?  Daya ku kurang.  Aku tidak tahu bagaimana cara agar kau dapat kembali seperti biasa,  ada untukku dan dapat membuat perhatian baru yang tak lebih dari perhatian mu kepada diriku untuk orang itu.  Sekarang kenapa kamu begini?  Berubah dengan alasan yang tak menentu.  Aku coba mencari ditemani dengan rasa takut bagaimana keadaan hati ku nanti jika tahu tentang suatu hal yang membuat dirimu berubah?  Kamu bukan power rangers,  sayang.

            Waktu terus berlalu,  kamu berubah total.  Untuk berbicara dengan mu di dunia palsu itu terasa sangat sulit.  Sekalipun aku bisa,  itu menjadi hadiah terindah untukku.  Meskipun diiringi dengan perubahan besar mu.  Kamu terlihat dewasa sekarang,  mulai mengerti tentang rasa dihati untuk yang lain.  Aku bangga.  Aku tersenyum dan menangis.  Tersenyum karna kamu sudah dapat tumbuh menjadi seseorang yang dewasa dan menangis karna aku kehilangan kamu yang polos dan lugu.  Kamu yang lama yang sejujurnya aku butuhkan.  Bukan yang sekarang.  Namun bagaimana?  Apa aku harus meminta mu menjadi anak-anak lagi?  Bahagia lah kamu dengan jenjang dewasa mu. 

            Terlihat jelas,  kamu berubah karna seseorang yang baru itu.  Aku tidak menyalahkan dirinya atas perubahan mu.  Kisah ini bukan pengadilan yang memaksa kalian untuk mengaku bersalah.  Aku justru ingin berterimakasih kepadanya karna sudah merubahmu menjadi sosok yang dewasa.  Meskipun terkadang,  rasa benci yang diiringi dengan tangis selalu ada untuk orang itu.  Mengapa harus dia yang menjadi tawa dan tangis mu?  Mengapa tidak aku?  Aku tahu aku kurang sempurna,  ah sudahlah,  aku tahu,  tawa dan tangis mu mungkin sekarang ada ditangannya.  Kalian terlihat cocok,  pasangan yang manis.  Kenapa kamu masih menunggu untuk menjadikannya kekasih?  Kalau seperti ini terus,  aku juga terus berharap sama kamu.  Bodoh ya?  Iya aku bodoh.  Memang dari awal seharusnya aku tak mengubris untuk ingin tahu tentang mu.  Awal aku melihat mu aku juga sudah tahu,  apa yang membuatmu terlihat sempurna?  Sepertinya tak ada.  Namun kenapa aku begitu ingin tahu tentang mu?  Alam yang menginginkannya.  Alam menginginkan perpisahan dari pertemuan kita itu mungkin sekarang.
           

            Terimakasih kamu pernah mau bermain dikehidupan ku.  Aku bersyukur dapat bermain dengan orang seperti mu.  Sempat memiliki ikatan dengan mu.  Sempat membuat mu tertawa atau tersenyum di dunia nyata lewat kata-kata di dunia palsu.  Oh iya,  banyak sesuatu yang baru yang aku dapatkan sewaktu bersama mu.  Aku senang.  Aku rindu bagaimana cara kita berkenalan tanpa ada rencana sedikit pun.  Aku juga rindu saat kamu terikat kepada persyaratan untuk izin sewaktu mau meninggalkan ku untuk istirahat dari dunia palsu di malam hari.  Aku rindu kamu yang menjadi alasan ku tertawa,  aku juga tindu kamu yang menjadi alasan tangis ku. Selamat buat kamu dan dia yang sedang menempuh kisah baru tanpa aku didalamnya,  tapi ingat,  sampai sekarang kamu masih menjadi pengendali tawa dan tangis ku.  Inilah seribu tujuh puluh kata yang ku tulis hanya untuk mu.