Lucu
ya kalau ingat bagaimana cara kita kenalan.
Aku yang terlihat sok tahu tentang dirimu dan kamu yang terlihat
benar-benar polos dan lugu. Cara kita
bercakap-cakap lewat jejaring sosial.
Kamu yang enggak perlu waktu lama buat bikin aku luluh dan nyaman. 3-4 bahkan 5 jam kita bercakap lewat
internet, waktu yang lama untuk
teleponan bagi orang biasa, namun tidak
untuk kita, mungkin kita bukan orang
yang biasa. Terkadang senyum diwajah ini
suka terkembang begitu saja ketika kamu membuat lelucon kecil, ataupun cemberut yang mendadak ketika kamu
membuat aku kesal ataupun penasaran. Rasa
nyaman yang amat sangat kau ciptakan begitu saja tanpa butuh waktu lama. Bagaimana bisa semua itu berjalan dengan
sangat lama setiap harinya? Sampai aku
sadar, aku ada didalam cinta bersama mu.
Terus berjalan,
hingga suatu saat kamu membuat air mata ini terjatuh karna mu. Tak kusangka kamu juga dapat menciptakan
tetesan air mata yang mengalir di pipi ini.
Padahal tak ada yang nyata, semua
hanya rangkaian kata yang mungkin salah kamu rangkai. Namun lagi-lagi lelucon kecil mu membuat aku
tersenyum kembali. Saat itu juga aku tau
kamu itu pengendali senyum dan tawa ku.
Semua itu ada di tangan mu.
Lucu. Kamu langsung membuat aku
terpukau dengan segala hal yang kamu lakukan kepada ku.
Kita yang di dunia palsu itu terlihat seperti nyata dan
abadi, namun berbeda untuk di dunia
nyata, kita justru terlihat seperti
bayang-bayang semu. Aku hanya dapat
menatap mu ketika kau berjalan menuju toilet,
kelas, ruang guru, ataupun tempat lainnya. Menatap mu secara tajam yang seakan
menyampaikan pesan bahwa aku punya rasa yang disebut cinta untuk mu. Namun kenapa kau tak kunjung mengerti? Ya aku tahu,
aku yang salah. Ketika aku
menatap mu, kamu dalam keadaan sedang
sibuk dengan kegiatan yang lain, ketika
matamu menatap balik ke arah mata ku,
aku langsung membuang pandangan ku.
Sedikit saja pandangan mu yang aku lihat, membuat sebuah getaran besar di dada, sampai aku merasakan akan mati mendadak jika
menatapnya terlalu lama. Pantas kamu tak
mengerti arti tatapan ku, saat kau
mendapatkan kesempatan dan berusaha mengartikan, aku justru menutup kesempatan kamu itu. Mungkin aku akan berani dan kuat memberikan
mu kesempatan penuh untuk mengartikan tatapan ku, namun tidak untuk sekarang.
Berbincang seperti pasangan kekasih yang lain, yang kita lihat sehari-harinya. Berbincang,
canda tawa, mereka seperti berada
dalam ikatan yang membahagiakan.
Sedangkan aku? Jangankan untuk
berbincang dengan mu, menatap mu saja
aku tak kuasa. Banyak sekali peluang
yang datang kepada ku untuk dapat berbincang dengan mu, namun apa?
Aku tak sanggup. Aku justru
membiarkan dan pasrah saat kamu malah berbicara dengan yang lain. Seperti teriris rasanya hati ini ketika
melihat mu hanya sekedar berbincang dengan kawan ku. Setiap kamu menatap yang lain, seakan-akan kamu menunjukkan rasa dan
kehangatan untuk mereka, apa memang kamu
orang yang perasa?. Saat kamu berusaha
mengajakku berbincang, saat itu
saja, rasanya jantungku berdegub kencang
sekali dan ingin keluar menumpahkan semua isi darahnya dimana-mana. Aku hanya dapat menahan senyuman dan tetap
berusaha untuk terlihat keren di depan mu.
Sampai-sampai kamu bilang aku culun bahkan pecundang. Sakit.
Seandainya kamu tahu apa yang kurasa.
Kamu terlalu indah untuk aku ajak bicara.
Sampai akhirnya orang itu datang, datang kemari menghampiri ‘kita’. Aku tak tahu apa yang akan ia lakukan, aku fikir ia orang baik yang akan membantu
penyempurnaan kata ‘kita’ sekarang ini.
Kamu juga butuh teman selain aku, aku juga enggak ada hak buat melarang
kamu. Akhirnya aku mempersilahkan orang
itu datang bermain bersama kita.
Asyik. Meskipun terlihat
perhatian mu terbagi dua, tidak hanya
untukku, namun juga untuk diri yang
lain.
Semakin lama,
perhatian mu semakin memudar.
Kamu semakin dekat dengannya. Aku
tak tahu apa yang harus aku lakukan.
Ingin memecahkannya,
menghancurkan interaksi antara kamu dengannya agar aku bisa kembali
aktif berinteraksi dengan mu, namun apa
daya? Daya ku kurang. Aku tidak tahu bagaimana cara agar kau dapat
kembali seperti biasa, ada untukku dan
dapat membuat perhatian baru yang tak lebih dari perhatian mu kepada diriku
untuk orang itu. Sekarang kenapa kamu
begini? Berubah dengan alasan yang tak
menentu. Aku coba mencari ditemani dengan
rasa takut bagaimana keadaan hati ku nanti jika tahu tentang suatu hal yang
membuat dirimu berubah? Kamu bukan power
rangers, sayang.
Waktu terus berlalu,
kamu berubah total. Untuk
berbicara dengan mu di dunia palsu itu terasa sangat sulit. Sekalipun aku bisa, itu menjadi hadiah terindah untukku. Meskipun diiringi dengan perubahan besar
mu. Kamu terlihat dewasa sekarang, mulai mengerti tentang rasa dihati untuk yang
lain. Aku bangga. Aku tersenyum dan menangis. Tersenyum karna kamu sudah dapat tumbuh
menjadi seseorang yang dewasa dan menangis karna aku kehilangan kamu yang polos
dan lugu. Kamu yang lama yang sejujurnya
aku butuhkan. Bukan yang sekarang. Namun bagaimana? Apa aku harus meminta mu menjadi anak-anak
lagi? Bahagia lah kamu dengan jenjang
dewasa mu.
Terlihat jelas,
kamu berubah karna seseorang yang baru itu. Aku tidak menyalahkan dirinya atas perubahan
mu. Kisah ini bukan pengadilan yang
memaksa kalian untuk mengaku bersalah.
Aku justru ingin berterimakasih kepadanya karna sudah merubahmu menjadi
sosok yang dewasa. Meskipun
terkadang, rasa benci yang diiringi
dengan tangis selalu ada untuk orang itu.
Mengapa harus dia yang menjadi tawa dan tangis mu? Mengapa tidak aku? Aku tahu aku kurang sempurna, ah sudahlah,
aku tahu, tawa dan tangis mu
mungkin sekarang ada ditangannya. Kalian
terlihat cocok, pasangan yang
manis. Kenapa kamu masih menunggu untuk
menjadikannya kekasih? Kalau seperti ini
terus, aku juga terus berharap sama
kamu. Bodoh ya? Iya aku bodoh. Memang dari awal seharusnya aku tak mengubris
untuk ingin tahu tentang mu. Awal aku
melihat mu aku juga sudah tahu, apa yang
membuatmu terlihat sempurna? Sepertinya
tak ada. Namun kenapa aku begitu ingin
tahu tentang mu? Alam yang
menginginkannya. Alam menginginkan
perpisahan dari pertemuan kita itu mungkin sekarang.
Terimakasih kamu pernah mau bermain dikehidupan ku. Aku bersyukur dapat bermain dengan orang
seperti mu. Sempat memiliki ikatan
dengan mu. Sempat membuat mu tertawa
atau tersenyum di dunia nyata lewat kata-kata di dunia palsu. Oh iya,
banyak sesuatu yang baru yang aku dapatkan sewaktu bersama mu. Aku senang.
Aku rindu bagaimana cara kita berkenalan tanpa ada rencana sedikit
pun. Aku juga rindu saat kamu terikat
kepada persyaratan untuk izin sewaktu mau meninggalkan ku untuk istirahat dari
dunia palsu di malam hari. Aku rindu
kamu yang menjadi alasan ku tertawa, aku
juga tindu kamu yang menjadi alasan tangis ku. Selamat buat kamu dan dia yang
sedang menempuh kisah baru tanpa aku didalamnya, tapi ingat,
sampai sekarang kamu masih menjadi pengendali tawa dan tangis ku. Inilah seribu tujuh puluh kata yang ku tulis
hanya untuk mu.