‘Apa?
Palembang? Kamu gila atau gimana
sih?’. Malam yang penuh dengan
kehangatan sang dewi rembulan dan raja bintang.
Mungkin mereka sedang bermesraan di langit sana sehingga kehangatan
cinta mereka memancar sampai ke Bumi.
Bagaimana bisa dengan keadaan sehangat itu harus dipecahkan dengan kabar
yang benar-benar buruk dari seseorang yang kita cintai?. Kabar yang dapat membekukan kehangatan malam
itu. Semua terasa dingin, menusuk ke hati. Apa maksud mu mengirimkan aku pesan seperti
itu?. Ingin membuat aku rapuh?. Atau ingin membuat aku mati sejenak?.
‘Aku mau sekolah di Palembang, kampung halaman ku. Aku yang minta untuk kesana.’ Dengan santainya kau mengirimkan pesan
singkat seperti itu.
‘Palembang? Buat
apa? Disini atau di daerah Bekasi juga
banyak sekolah yang bagus, enggak harus
Palembang, sayang.’
‘Aku cinta pemandangan disana, dengan makanan khas pempek yang beraroma
lezat. Aku selalu rindu.’
‘Hanya untuk pemandangan?
Aku bisa setiap hari meluangkan waktu untuk bersama mu ketempat yang
mempunyai pemandangan indah, bahkan
lebih baik dari Palembang!’
‘Susah kalau seperti itu.
Aku lelah habis pulang sekolah,
kamu juga. Lebih praktis bukan
jika sambil pulang sekolah aku menikmati udara Palembang?.’
Tidak. Ini tidak mungkin. Tak akan pernah aku mengizinkan mu menjauh
dari diriku. Apa kamu bosan harus setiap
hari bertemu dengan ku dan pemandangan di Bekasi sini?. Bercengkrama dengan mu saja belum terlalu
sering aku lakukan. Hanya sekedar
senyum, sapa, dan tawa yang ada tiap kita bertemu. Kata-kata yang kalah dengan hal-hal yang kita
lakukan. Aku masih ingin melihat mu dari
jarak dekat. Aku masih belum sempat
memeluk mu dengan erat. Aku masih belum
merasakan tangan lembut mu menghapuskan beningan-beningan air mata yang kau
anggap permata ini di pipi ku. Aku belum
siap kau tinggalkan begitu saja.
‘Tapi aku belum siap kau tinggalkan begitu saja. Di Bekasi saja sudah cukup sih. Kenapa harus Palembang? Bosan kah kau dengan aku?’
‘Bukan begitu,
sayang. Aku hanya ingin terus
menerus menghirup udara di tanah kelahiran ku.’
‘Aku belum sempat mencetak harapan ku kepada mu. Mencubit pipi mu karna sudah membuat air mata
ku jatuh beberapa kali.’
‘Kamu bisa melakukan itu saat aku mampir ke Bekasi untuk
merapihkan rumah. Lakukan sepuas mu.’
‘Aku sayang sama kamu.
Kamu mau aku berpaling ke yang lain karna terlalu lama kamu tinggal dan
jarang kamu berikan kehangatan? Ah itu
tidak akan mungkin.’
‘Itu sih hak kamu.
Aku gak akan ganggu gugat kalau kamu mau begitu.’
‘Sayang, jarak
Bekasi ke Palembang itu enggak deket.
Kamu ngerti dikit dong.’
‘Kan insyaallah aku pasti balik. Kamu juga ngertiin kemauan aku dikit dong.’
‘Terpisahkan karna jarak?.’
Aku enggak yakin bisa ngelawatin ini semua sendiri. Tanpa ada kamu yang berdiri tegak disamping
aku. Aku berdiri tegak disini bukan
karna aku hebat atau kuat. Semua karna
cinta yang kamu beri ke aku. Cerewetnya
kamu yang selalu ada ketika aku tiba-tiba berubah atau deket sama orang
lain. Ambekan mu yang membuat ku luluh
ketika terlalu lama bersikap membosankan kepada mu. Amarah mu yang terkadang sama dengan amarah
ayah ku, terlihat menyeramkan, membuat aku merinding dan ketakutan, namun kamu tenangkan aku lagi dengan
kehangatan mu. Egoisnya kamu yang enggak
pernah mau ngertiin aku, kamu ngelarang
aku buat dekat dengan yang lain, tapi
kamu? Punya banyak teman curhat lain
selain aku. Aku enggak bisa lepas dari
itu semua.
‘Yaudah kalau itu mau kamu. Aku gak bisa mecahin keyakinan kamu.’
‘Kamu bisa ngelepas aku juga kan? Akhirnya kamu mengerti, kamu terlihat dewasa jika seperti ini. Kesayangan aku sih, hehe.’
‘Iya. Aku
ngerti. Aku harus percaya sama
kamu. Pasti kamu bakalan tetap jaga
perasaan kamu ke aku. Kamu bisa kan jaga
kepercayaan aku saat kamu disana?.’
‘Masih dipertanyakan aja yang seperti itu. Aku jaga itu seperti menjaga dirimu.’
‘Jangan berlebihan deh.
Lagipula kenapa harus gitu?.’
‘Karna hanya itu bagian dari dirimu yang aku miliki
disana.’
‘Aku sayang kamu.’
‘Aku lebih.’
‘Aku yang benar-benar lebih mencintai mu.’
‘Aku takut, kita
kepisah saat aku disana. Bukannya
macem-macem. Aku cuma takut, sayang.
Kalau itu terjadi bagaimana?’
‘Aku udah ngambil resiko
itu, sayang.’
‘Yang tersayang sekarang sudah dewasa.’
Aku tau sekarang,
aku harus terlihat dewasa di depan mu.
Kamu juga yang mengajarkan aku untuk menjadi sosok yang dewasa. Mampu menghadapi ini semua sendiri. Waktu terus berlalu. Seakan-akan aku menunggu kapan kamu
pergi?. Bukan karna aku ingin kamu cepat
berlalu, namun aku ingin segera melihat
ekspresi hati ini ketika tau harus di tinggalkan oleh yang tersayang. Saling percaya dan saling jujur. Menurut aku itu kunci agar hubungan kita bisa
bertahan lama. Aku percaya kamu akan
tetap ada buat aku meskipun ada jarak yang tega memisahkan kita. Jujur?
Daridulu aku menekankan ini.
Setiap masalah atau ada yang aneh aku berusah untuk jujur. Aku harap kamu juga seperti itu sayang. Aku harap tidak akan ada lagi tetesan air
mata yang kau buat saat kamu disana. Aku
akan tetap mengubris kabar tentang mu saat kamu disana. Aku mohon,
tetaplah disini, bertahan
untukku. Sosok yang aku rindukan di
Palembang sana. Meskipun aku sudah
mengerti, tetap aku akan berkeras kepala
menghentikan niatan mu ke Palembang dengan cara perlahan. Kalau memang aku gagal, aku udah ngambil resiko itu. Aku kuat,
hebat, dan dewasa karna mu. Tetap ingat ini ya, sayang,
jarak Bekasi ke Palembang itu enggak dekat. Aku akan terus merindu akan dirimu disini
saat kamu disana. Aku yang benar-benar
sabar menghadapi mu. Anggap saja, aku yang lebih benar-benar mencintaimu.