Kamu salah, kamu
salah ketika menilai dia, bahwa dia itu kepo.
Dia hanya sekedar ingin tahu.
Ingin tahu dari suatu hal yang tidak pernah diketahuinya. Semacam kabar dari mu, yang terus ia tunggu dan ia harapkan datang
begitu saja menghampirinya, namun
apa?. Tidak dengan rasa terpaksa, namun dengan rasa sayangnya ia penasaran
sebegitu rupa kepada kabar dari dirimu.
Apa yang salah dari seseorang yang tulus menyayangimu dan ingin tahu
tentang dirimu? Salahkah ia ketika kamu
yang sudah menghilangkan hal yang menjadi kebiasaannya untuk diketahui, seperti kabar darimu? Kamu yang salah, sayang.
Kamu salah, kamu
salah ketika menilai dia itu sok tahu. Dia hanya sebatas ingin terlihat mengenalmu
lebih dalam. Dia ingin semua orang
mengetahui bahwa dia tahu segalanya tentang dirimu. Semacam isi hati mu. Dia menebak kau sedang jatuh hati pada si A
atau si B, pada faktanya? Tak ada yang tahu. Dia hanya ingin terlihat mengetahui segala
tentang dirimu. Seperti pola makan
mu, ya,
mungkin memang agak sedikit absurd,
tapi ya... Memang seperti
itu, dia bilang ‘dari jam 01:00-04:00
dia tuh gak makan, bla bla bla..’ hanya
untuk sok tahu kamu bilang?
Dia hanya ingin terlihat tahu segala tentang mu. Salahkah ketika seseorang yang terlalu dalam
sayang kepadamu ingin terlihat tahu segala tentangmu? Salahkah ketika seseorang yang terlalu dalam
sayang kepadamu tidak ingin disebut ‘katanya sayang... Kok gak tau apa-apa tentang dia sih?’ ?. Kenapa kamu gak menjelaskan semua yang ia
tanyakan aja, agar ia tak terlihat sok tahu lagi? Kamu yang salah, sayang.
Kamu salah, kamu
salah ketika menilai dia berlebihan. Dia
hanya ingin membuktikkannya.
Membuktikkan kasih sayang yang selama ini dia pendam. Dia punya firasat kau sudah mengetahui semua
perasaannya ini, namun, dia tidak pernah berhenti mencoba, mencoba untuk perasaannya kau akui. Seperti hal-hal gila yang hampir dia
lakukan, seperti menitipkan sebungkus
coklat pagi-pagi ke kantin, agar sorenya
dapat ia berikan kepada dirimu. Berulang
kali dia melakukan hal itu, namun? Akhirnya?
Ia tak punya cukup nyali.
Seandainya nyali itu terkumpulpun,
kamu bilang itu berlebihan kan?.
Apa yang salah dari orang yang terlalu dalam sayang sama kamu dan ingin
membuktikkan perasaannya? Apa yang salah
dari orang yang terlalu dalam sayang sama kamu ingin membuktikkan bahwa ‘ini
loh perasaan yang ada selama ini’ meskipun dengan cara yang tak logika? Kenapa kamu gak pernah memberinya peluang
untuk melakukan hal kecil untuk membuktikkannya? Kamu yang salah, sayang.
Seringkali aku menuduhmu bahwa kamu yang bersalah, hanya lewat fakta-fakta kecil saja. Selebihnya?
Aku sering tak sadarkan diri. Aku
yang sering bersalah. Aku terlalu ingin
tahu tentang dirimu, sampai-sampai aku
lepas kendali dan ingin mencampuri masalah pribadi mu. Maafkan aku,
sayang. Tapi, asalkan kau tahu, itu semua bukan kehendakku. Namun perintah dari hati ini. Aku juga terlalu berlebihan ketika
menceritakan tentang dirimu kepada orang lain,
dan saat orang lain itu bertanya kepada dirimu dengan kata ‘apa benar?’
pasti kamu kaget. Kaget bahwa aku
terlalu berlebihan dalam hal ini. Aku
salah besar, maafkan aku, sayang.
Tapi asalkan kamu tahu, aku hanya
tidak ingin dibilang ‘katanya sayang... Kok gatau apa-apa tentang dia sih?’
oleh orang-orang. Aku sadar, aku berlebihan ketika ingin membuktikkan
perasaan ini. Sampai-sampai mungkin kamu
berkata didalam hati ‘ah, berlebihan
sangat.’. Dengan cara-cara idiot
ku, aku ingin tumpahkannya kepada
dirimu, demi membuktikkan segenap rasa
ini. Tolol. Maafkan aku,
sayang. Tapi asalkan kau tahu, aku terlalu dalam jatuh cinta kepada
dirimu, namun kamu tak pernah kunjung
membalasnya, mungkin jika dengan kau
tahu isi hati ini, kau akan
membalasnya, karna itu aku ingin membuktikkannya
padamu. Ada sisi dimana aku yang
salah, tapi ada juga sisi dimana kamu
yang salah. Disaat itu, masing-masing dari kita hanya bisa
intropeksi, itu juga ketika kita
memiliki rasa yang aneh namun sama.
Serempak. Kompak. Ketika aku salah, maafkan aku,
namun, kau juga harus
berkaca, apa kau juga salah dalam hal
itu?.