Jumat, 26 April 2013

Kamu Juga Salah


            Kamu salah,  kamu salah ketika menilai dia,  bahwa dia itu kepo.  Dia hanya sekedar ingin tahu.  Ingin tahu dari suatu hal yang tidak pernah diketahuinya.  Semacam kabar dari mu,  yang terus ia tunggu dan ia harapkan datang begitu saja menghampirinya,  namun apa?.  Tidak dengan rasa terpaksa,  namun dengan rasa sayangnya ia penasaran sebegitu rupa kepada kabar dari dirimu.  Apa yang salah dari seseorang yang tulus menyayangimu dan ingin tahu tentang dirimu?  Salahkah ia ketika kamu yang sudah menghilangkan hal yang menjadi kebiasaannya untuk diketahui,  seperti kabar darimu?  Kamu yang salah,  sayang.


            Kamu salah,  kamu salah ketika menilai dia itu sok tahu.  Dia hanya sebatas ingin terlihat mengenalmu lebih dalam.  Dia ingin semua orang mengetahui bahwa dia tahu segalanya tentang dirimu.  Semacam isi hati mu.  Dia menebak kau sedang jatuh hati pada si A atau si B,  pada faktanya?  Tak ada yang tahu.  Dia hanya ingin terlihat mengetahui segala tentang dirimu.  Seperti pola makan mu,  ya,  mungkin memang agak sedikit absurd,  tapi ya...  Memang seperti itu,  dia bilang ‘dari jam 01:00-04:00 dia tuh gak makan,  bla bla bla..’ hanya untuk sok tahu kamu  bilang?  Dia hanya ingin terlihat tahu segala tentang mu.  Salahkah ketika seseorang yang terlalu dalam sayang kepadamu ingin terlihat tahu segala tentangmu?  Salahkah ketika seseorang yang terlalu dalam sayang kepadamu tidak ingin disebut ‘katanya sayang...  Kok gak tau apa-apa tentang dia sih?’ ?.  Kenapa kamu gak menjelaskan semua yang ia tanyakan aja,  agar ia tak terlihat sok tahu lagi?  Kamu yang salah,  sayang.

            Kamu salah,  kamu salah ketika menilai dia berlebihan.  Dia hanya ingin membuktikkannya.  Membuktikkan kasih sayang yang selama ini dia pendam.  Dia punya firasat kau sudah mengetahui semua perasaannya ini,  namun,  dia tidak pernah berhenti mencoba,  mencoba untuk perasaannya kau akui.  Seperti hal-hal gila yang hampir dia lakukan,  seperti menitipkan sebungkus coklat pagi-pagi ke kantin,  agar sorenya dapat ia berikan kepada dirimu.  Berulang kali dia melakukan hal itu,  namun?  Akhirnya?  Ia tak punya cukup nyali.  Seandainya nyali itu terkumpulpun,  kamu bilang itu berlebihan kan?.  Apa yang salah dari orang yang terlalu dalam sayang sama kamu dan ingin membuktikkan perasaannya?  Apa yang salah dari orang yang terlalu dalam sayang sama kamu ingin membuktikkan bahwa ‘ini loh perasaan yang ada selama ini’ meskipun dengan cara yang tak logika?  Kenapa kamu gak pernah memberinya peluang untuk melakukan hal kecil untuk membuktikkannya?  Kamu yang salah,  sayang.

            Seringkali aku menuduhmu bahwa kamu yang bersalah,  hanya lewat fakta-fakta kecil saja.  Selebihnya?  Aku sering tak sadarkan diri.  Aku yang sering bersalah.  Aku terlalu ingin tahu tentang dirimu,  sampai-sampai aku lepas kendali dan ingin mencampuri masalah pribadi mu.  Maafkan aku,  sayang.  Tapi,  asalkan kau tahu,  itu semua bukan kehendakku.  Namun perintah dari hati ini.  Aku juga terlalu berlebihan ketika menceritakan tentang dirimu kepada orang lain,  dan saat orang lain itu bertanya kepada dirimu dengan kata ‘apa benar?’ pasti kamu kaget.  Kaget bahwa aku terlalu berlebihan dalam hal ini.  Aku salah besar,  maafkan aku,  sayang.  Tapi asalkan kamu tahu,  aku hanya tidak ingin dibilang ‘katanya sayang... Kok gatau apa-apa tentang dia sih?’ oleh orang-orang.  Aku sadar,  aku berlebihan ketika ingin membuktikkan perasaan ini.  Sampai-sampai mungkin kamu berkata didalam hati ‘ah,  berlebihan sangat.’.  Dengan cara-cara idiot ku,  aku ingin tumpahkannya kepada dirimu,  demi membuktikkan segenap rasa ini.  Tolol.  Maafkan aku,  sayang.  Tapi asalkan kau tahu,  aku terlalu dalam jatuh cinta kepada dirimu,  namun kamu tak pernah kunjung membalasnya,  mungkin jika dengan kau tahu isi hati ini,  kau akan membalasnya,  karna itu aku ingin membuktikkannya padamu.  Ada sisi dimana aku yang salah,  tapi ada juga sisi dimana kamu yang salah.  Disaat itu,  masing-masing dari kita hanya bisa intropeksi,  itu juga ketika kita memiliki rasa yang aneh namun sama.  Serempak.  Kompak.  Ketika aku salah,  maafkan aku,  namun,  kau juga harus berkaca,  apa kau juga salah dalam hal itu?.