Jumat, 26 Juli 2013

Memilih Setia

Maafkan diriku memilih setia,  walaupun ku tahu cintamu lebih besar darinya. –Fatin Shidqia

            Hujan  kembali menyelimuti daerah di rumah ku.  Hujan dengan rintik-rintik kecil namun terlalu banyak untuk dapat aku tampung.  Terdiam melihat rintik yang dapat aku lihat saat jatuh.  Tiba-tiba saja,  ada sesuatu yang terbesit dipikiranku,  sesuatu yang membuyarkan lamunan ku.  Apa itu?.  Haruskah aku gubris atau aku biarkan saja berlalu?.  Aku takut terjadi sesuatu pada perasaan ku jika aku mengetahui apa ini.  Aku berpikir kritis.  Aku coba untuk gubris.  Aku takut hal ini mengganggu ku setiap saat. 


Aku teringat akan seseorang.  Seseorang yang aku anggap seperti awan tebal yang menyelimuti ke kemanapun aku pergi.  Setiap langkah ku yang kau coba untuk lindungi.  Aku selalu berusaha menjauh dari lindungan mu.  Aku takut ada makna lain dari setiap lindungan mu.  Tapi aku juga takut jika Tuhan mengirimkan diri mu untuk melindungi ku.  Aku tidak bisa memutuskan pilihan ku sendiri.  Terus menghujani ku dengan perhatian-perhatian kecil mu.  Tanpa kenal lelah.

Selangkah demi selangkah,  hari demi hari,  aku mulai terbiasa dengan dirimu yang selalu menghujani ku dengan perhatian penuh.  Aku tetap menanggapinya biasa.  Aku takut kamu menanggapi sesuatu yang aku berikan padamu secara berlebihan,  seperti aku menanggapi apa yang orang itu berikan pada ku. 

Mungkin ini salah satu cara tuhan menghadirkan cinta,  mungkin kau adalah salah satunya.  Tapi engkau datang di masa yang tidak tepat,  saat sudah ada yang membuat hati ku terpikat.  Seseorang yang telah memiliki hati ku.  Memiliki hati ku secara utuh.  Memiliki cinta ku yang tulus. 

Maafkan aku,  aku tidak bisa bersama mu.  Meski aku tahu tulusnya rasa cinta mu selama ini.  Berjuta perhatian yang kamu berikan pada ku.  Kamu yang terus menghibur ku disaat dia rapuhkan ku.  Kamu yang menenangkan aku ketika ia menjatuhkan ku,  sehingga bulir-bulir air mata ini tidak sempat jatuh ke tanah.  Kamu mengajari ku untuk tidak terlalu menomor satukannya,  aku terlalu berharga untuk menangisinya.  Tapi tetap,  cinta ku terlalu tulus untuknya,  takkan mungkin aku bagi cinta tulus ku,  dan aku memilih setia.

Jutaan kali logika ku menolak,  dengan jutaan hal aku terus men-tidak mungkinkan semua itu terjadi.  Tapi jujur,  aku tidak bisa bohongi hati kecil ku,  hati kecil yang terus meminta sesuatu yang tidak ia inginkan.  Aku bingung.  Aku berkata tidak bisa berkata ‘iya’ seperti hati ku.  Namun hati ku juga ingin meminta ‘iya’ yang tidak seperti diriku.  Seandainya hati ku ini tetap memilih menjadi hati yang utuh untuk diriku sendiri,  tidak aku berikan kepada siapapun.  Pasti ku,  akan memilih dan selalu memilih dirimu.

Aku sadar,  disini akhirnya,  semuanya harus aku selesaikan.  Semua hal yang sudah terjadi,  harus aku akhiri.  Aku takut hal ini akan menjadi hal yang tidak pernah ditemukan ujung dan kejelasannya.  Harus aku akhiri,  sebelum rasa cinta dan sayang mu kepada ku semakin dalam.  Sebelum kamu terlalu lama menghujani ku dengan segala perhatian mungil mu.  Sebelum kamu terlarut begitu lama dan dalam pada semua ini.  Aku tahu aku yang salah sejak awal.  Seharusnya aku terus menolak dengan tegas.  Seharusnya aku memberanikan diri untuk memberi tahu tentang keberadaan seseorang di hati ku,  aku terlalu takut untuk menyakiti orang seperti mu.  Maafkan aku yang memilih setia,  meskipun ku tahu bahwa cinta mu lebih besar dari nya.


Note:  Inspiration from Song by Fatin ‘Memilih Setia’.