Maafkan
diriku memilih setia, walaupun ku tahu
cintamu lebih besar darinya. –Fatin Shidqia
Hujan kembali menyelimuti daerah di rumah ku. Hujan dengan rintik-rintik kecil namun
terlalu banyak untuk dapat aku tampung.
Terdiam melihat rintik yang dapat aku lihat saat jatuh. Tiba-tiba saja, ada sesuatu yang terbesit dipikiranku, sesuatu yang membuyarkan lamunan ku. Apa itu?.
Haruskah aku gubris atau aku biarkan saja berlalu?. Aku takut terjadi sesuatu pada perasaan ku
jika aku mengetahui apa ini. Aku
berpikir kritis. Aku coba untuk
gubris. Aku takut hal ini mengganggu ku
setiap saat.
Aku teringat akan seseorang. Seseorang yang aku anggap seperti awan tebal
yang menyelimuti ke kemanapun aku pergi.
Setiap langkah ku yang kau coba untuk lindungi. Aku selalu berusaha menjauh dari lindungan
mu. Aku takut ada makna lain dari setiap
lindungan mu. Tapi aku juga takut jika
Tuhan mengirimkan diri mu untuk melindungi ku.
Aku tidak bisa memutuskan pilihan ku sendiri. Terus menghujani ku dengan
perhatian-perhatian kecil mu. Tanpa
kenal lelah.
Selangkah demi selangkah, hari demi hari, aku mulai terbiasa dengan dirimu yang selalu
menghujani ku dengan perhatian penuh.
Aku tetap menanggapinya biasa.
Aku takut kamu menanggapi sesuatu yang aku berikan padamu secara berlebihan, seperti aku menanggapi apa yang orang itu
berikan pada ku.
Mungkin ini salah satu cara tuhan
menghadirkan cinta, mungkin kau adalah
salah satunya. Tapi engkau datang di
masa yang tidak tepat, saat sudah ada
yang membuat hati ku terpikat. Seseorang
yang telah memiliki hati ku. Memiliki
hati ku secara utuh. Memiliki cinta ku
yang tulus.
Maafkan aku, aku tidak bisa bersama mu. Meski aku tahu tulusnya rasa cinta mu selama
ini. Berjuta perhatian yang kamu berikan
pada ku. Kamu yang terus menghibur ku
disaat dia rapuhkan ku. Kamu yang
menenangkan aku ketika ia menjatuhkan ku,
sehingga bulir-bulir air mata ini tidak sempat jatuh ke tanah. Kamu mengajari ku untuk tidak terlalu menomor
satukannya, aku terlalu berharga untuk
menangisinya. Tapi tetap, cinta ku terlalu tulus untuknya, takkan mungkin aku bagi cinta tulus ku, dan aku memilih setia.
Jutaan kali logika ku menolak, dengan jutaan hal aku terus men-tidak
mungkinkan semua itu terjadi. Tapi
jujur, aku tidak bisa bohongi hati kecil
ku, hati kecil yang terus meminta
sesuatu yang tidak ia inginkan. Aku
bingung. Aku berkata tidak bisa berkata
‘iya’ seperti hati ku. Namun hati ku
juga ingin meminta ‘iya’ yang tidak seperti diriku. Seandainya hati ku ini tetap memilih menjadi
hati yang utuh untuk diriku sendiri,
tidak aku berikan kepada siapapun.
Pasti ku, akan memilih dan selalu
memilih dirimu.
Aku sadar, disini akhirnya, semuanya harus aku selesaikan. Semua hal yang sudah terjadi, harus aku akhiri. Aku takut hal ini akan menjadi hal yang tidak
pernah ditemukan ujung dan kejelasannya.
Harus aku akhiri, sebelum rasa
cinta dan sayang mu kepada ku semakin dalam.
Sebelum kamu terlalu lama menghujani ku dengan segala perhatian mungil
mu. Sebelum kamu terlarut begitu lama
dan dalam pada semua ini. Aku tahu aku
yang salah sejak awal. Seharusnya aku
terus menolak dengan tegas. Seharusnya
aku memberanikan diri untuk memberi tahu tentang keberadaan seseorang di hati
ku, aku terlalu takut untuk menyakiti
orang seperti mu. Maafkan aku yang
memilih setia, meskipun ku tahu bahwa
cinta mu lebih besar dari nya.
Note: Inspiration from Song by Fatin ‘Memilih
Setia’.