Yo,
selamat datang diumur lima belas,
Teman. Selamat bertambah umur dan
berkurang usia. Sudah seharusnya
sekarang kamu melepaskan semua sifat kekanak-kanakan mu. Membiasakan diri tidur malam tanpa
dininabobokan oleh dongeng-dongeng atau kawan tidur
disamping mu untuk menemani mu melewati gelap malam dan lekas terlelap. Tenang saja,
kamu tak pernah terlihat seperti anak-anak atau bocah dimata ku. Kamu selalu terlihat hebat dan mandiri, selalu pantas dan layak untuk dijadikan
panutan oleh orang sekitar mu.
Apa kabar, Teman?.
Kapan terakhir kali kita berbincang-bincang, bersenda gurau, melepas penat, dan tertawa bersama baik di Sekolah tempat
kita menimba ilmu, di Kafe tempat kita
biasa mengisi perut dengan cemilan,
ataupun di base camp tempat
pilihan terakhir untuk bermalas-malasan; kamar ku? Ahaha..
Aku bahkan lupa. Ya aku rindu
tawa mu, senyum mu, kesabaran penuh mu, baik perhatian atau kebijakan mu disetiap
kali aku membagi masalah, bercerita tentang hal hal yang sulit ku hadapi
sendiri. Bagaimana cara mu berdiri
disamping ku untuk menemani ku melalui semua masalah seperti awal-awal
kedekatan kita. Bagaimana cara mu selalu
berusaha meluangkan waktu untuk ku ditengah kesibukan mu. Aku rindu semua tentang mu.
Bagaimana segala kesibukan mu
berlangsung?. Kegiatan silat yang masih
kamu tekuni sampai sekarang, bisa kah
kamu terus mengikuti perkembangan nya dan mengejar ketertinggalan mu? Aku tahu kamu selalu bisa berjalan santai
mengejar semuanya. Les dan bimbel untuk
menambah pengetahuan atau mengasah ilmu mu yang masih kamu ikuti, apa sampai sekarang masih kamu ikuti? Ku rasa kamu sudah mempunyai banyak
pengalaman dan hal yang kamu dapat disana,
menetaplah jika perlu. Segala hal
bersama teman baru dan sekolah baru yang kamu gabungi? Aku harap semua berjalan lancar dan seperti
yang kamu inginkan, aku tahu kamu orang
yang ramah dan sangat mudah untuk mengadaptasikan diri mu dengan sekitar . Semoga selalu dapat menemukan jalan untuk
menyelesaikan setiap masalah yang kamu hadapi disegala kesibukan mu. Semoga kamu dapat mengambil hikmah dan
menikmati semua nya, Teman.
Sudah lama aku tidak mengikuti kabar
mu. Baik nyata maupun maya. Tidak tahu akan kabar mu, akan segala hal yang kamu lakukan disetiap
hari nya. Aku selalu berusaha menyibukan
diri agar dapat melupakan mu. Melupakan
segala kesakitan yang terasa jika mengingat kenangan bersama mu – kenangan
kita. Tidak mencuri-curi kabar mu dari
segala sosial media yang menghubungkan aku dengan mu dulu. Tidak sibuk mencari mu karna setiap saat aku
merasa membutuhkan mu dan merasa ada yang kurang bila tak bersama mu. Tidak lagi candu akan kehadiran mu. Tidak lagi sibuk mencari tahu dengan siapa
kamu menghabiskan hari hari mu tanpa aku.
Ini adalah surat kedua yang aku buat
untuk mu. Untuk hadiah ulang tahun
mu. Seperti tahun lalu mungkin, aku terlalu pengecut untuk memberikan hadiah
untuk mu. Dan kali ini aku benar-benar
takut. Tiba-tiba saja aku merasa akan
benar-benar kehilangan sosok teman seperti dirimu untuk selamanya, aku takut itu akan menjadi tanda perpisahan
kita. Menurut mu seberapa bodoh aku
untuk menangisi mu semalaman? Aku
benar-benar takut. Kehilangan diri mu
menjadi salah satu hal yang paling aku takuti dihidupku. Akan menjadi hari hari yang sangat sulit
untuk aku lalui tanpa bantuan tangan mu,
tanpa diri mu yang berdiri tegak lagi disisi ku. Aku takut saat aku menyerahkan hal itu pada
mu, tangisan yang justru menjadi
pelengkapnya, bukan senyum sebagai
pemanis saat-saat itu.
Aku selalu ingin menjadi alasan mu
tersenyum, alasan mu tertawa, menjadi tempat mu berlabuh ketika merasa
sakit yang bukan main karna beberapa alasan,
tempat mu melepas lelah, tempat
mu melampiaskan segala hal. Tapi aku
hanya selalu bisa berandai-andai – dan takkan pernah menjadi kenyataan
lagi. Mungkin kamu benar-benar sudah
lupa dengan segalanya. Mungkin kamu
menganggap semua yang kita lalui,
mimpi-mimpi yang kita gantung bersama,
hanyalah angan dan khayal semata.
Kamu menganggapnya angin lalu,
ketika aku menganggapnya sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang tak sembarang orang boleh
menyentuhnya, sesuatu yang begitu ku
jaga.
Selalu menjadi kesakitan
tersendiri, menambah luka, ketika aku menulis sesuatu untuk mu. Paksaan untuk mengingat kembali semua
itu, kembali ke masa indah itu. Tulisan ku ini kubuat begitu telat, ketika aku tahu kalau kamu benar-benar
berarti. Mungkin surat ini enggan kau
baca, kau sangat sibuk bukan? Ahaha.
Tapi izinkan aku, sosok orang yang
menganggap dirinya adalah teman mu,
sosok yang menganggap diri mu adalah pahlawan beberapa lama untuk
nya, mengetik tentang dirimu. Hanya suara ketikan jemari ku yang menjadi
lagu di sore ini. Izinkan aku kembali
menarik oksigen karna setelah sekian lama menahan sesak ketika mengetahui bahwa
aku benar-benar kehilangan dirimu. Mari
kita kembali mengingat semua nya.
Beberapa waktu lalu aku memilih
untuk mundur dari semua permainan ini.
Permainan sebuah hubungan yang ku namai “Bukan Teman Biasa”. Permainan ini menjadikan hati dan batin
sebagai taruhan nya. Membuat ku lelah
dan terenyak. Kamu seorang kakak kelas
yang begitu rajin, pandai, dan ramah,
yang selalu menempati posisi nomor satu dikalangan sekitar mu, dan aku hanya seorang adik kelas bodoh yang
terlalu banyak bermimpi, malas, dan segala ketidak seriusan-ku. Ketika menatap mu, aku rasa segala hal yang susah; terasa lebih mudah dan indah untuk
dikerjakan. Segala hal yang menurut ku
tak berguna; menjadi harus ku lakukan –
menjadi nomor satu seperti mu. Aku mengingat
semua deretan dan rangkaian kejadian itu,
bagaimana cara kita berkenalan satu sama lain (sudah beberapa kali aku
jelaskan dipostingan-postingan sebelum nya :)),
bagaimana cara kita berdekatan,
bagaimana cara kita berbincang dan menghabiskan waktu, semua kita lakukan bersama bukan? Kamu ingat?.
Aku senang bagaimana cara mu merangkul ku dan memberikan aku semangat
ketika aku merasa sangat bodoh. Aku senang bagaimana cara mu mengajari ku
disetiap hal yang tidak ku mengerti. Aku
senang melihat bulat mata hitam mu. Aku
senang melihat potongan rambut pendek mu yang tak pernah membuat ku bosan
berlama-lama memandangmu. Aku senang
melihat tawa mu yang membuat muka mu terlihat bulat seperti tomat. Aku senang melihat dirimu yang tinggi
semampai namun tidak terlalu berisi. Aku
senang semua tentang kamu.
Di balik seragam putih biru mu, tersimpan sosok yang tangguh dan bijak, yang membuat siapa saja selalu ingin berada
didekat mu. Ketika kamu bercerita
tentang cita-citamu yang ingin sekali menerbangkan pesawat terbang; pilot, aku hanya tersenyum dan membayangkan kamu
sibuk berkutat dengan segala hal yang ada didalam pesawat, besar bukan tanggung jawab mu membawa puluhan
bahkan ratusan nyawa dalam satu transportasi?.
Aku membalas dengan menjelaskan bahwa aku ingin menjadi penulis atau
pengusaha besar, sorot mata mu yang
lembut dan teduh menandakan ketertarikan mu akan segala hal yang aku
ceritakan, membuat ku semakin merasa
bangga mempunyai sosok teman seperti mu.
Kamu tahu bagaimana semua nya
berlangsung? Ketika aku melihat mu
dengan sangat cantiknya mengenakan kebaya berwarna putih dan sedikit dandanan
yang menyempurnakan mu hari itu – hari kelulusan mu?. Rasa nya ada bagian dari hati ku yang hancur
secara perlahan, teriris. Ingin sekali rasanya saat itu aku memeluk mu
erat, menangis dibahu mu, tapi mungkin itu semua akan merusak
kesempurnaan mu dihari itu. Kamu tahu? Aku meneteskan bulir air mata ini, ketika melihat mu berbaris saat acara
itu, atau saat kamu maju kedepan sebagai
siswa berprestasi. Bangga sekaligus
takut. Sepertinya kamu benar-benar
tumbuh menjadi seorang gadis luar biasa yang akan melanjutkan jenjang kehidupan
luar biasa mu ketempat yang jauh lebih luar biasa; meninggalkan aku perempuan lugu dan bodoh
sendirian disini.
You’ve
told me, that everything is gonna be
okay. You always by my side. Sampai sekarang, kata-kata mu itu tidak ada gunanya, kosong.
Aku tahu semua nya tidak akan pernah baik-baik saja tanpa mu. Hanya kamu teman ku berbincang disekolah. Dan saat kamu pergi, mungkin akan sangat susah bagiku menemukan
suasana baru. Mungkin memang belum ada
satu tahun, atau bahkan belum ada
setengah tahun kita tidak saling menatap,
namun rindu ini terus tumbuh dan merekah dalam diriku, rasanya sangat ingin ku biarkan tumbuh bebas
diluar, namun apa daya, tempatnya merindu; kamu,
tidak bisa ku jangkau saat ini.
Apa kamu masih ingat tempat kita berbicara? Apa kamu masih tinggi semampai? Masih tidak berisi? Masih pandai?
Masih ingat aku?.
Ah seandainya ku katakan semua
perasaan ku ini secara langsung, pasti
semua tidak akan menjadi tolol dan bodoh seperti ini. Menerka-nerka yang tidak-tidak tentang mu. Dan mungkin kamu juga. Ah,
buat apa juga aku bersedih? Ini
kan tulisan mengenai ulang tahun mu!
Mari kita bersenang-senang. Duduk
berhadapan atau bersampingan, membagi
makanan berdua. Sedekat dulu lagi. Ceritakan tentang segala hal yang telah kamu
lalui selama ini tanpa ku. Ceritakan
semua nya, aku tidak peduli apa itu teman
baru di Kampus Ungu mu, atau tentang
ikatan siswa yang namanya tak lagi OSIS disana,
ceritakan saja semuanya; pasti ku
dengarkan, Kak Yuli.
Sekali lagi, selamat ulang tahun. Semoga diumurmu yang ke lima belas ini, kamu menjadi lebih dewasa. Menjadi lebih ramah kepada orang sekitar
mu. Menjadi lebih pengasih dan penyabar
dari yang kamu lakukan untuk ku. Menjadi
lebih pandai disetiap hal dari yang kamu dapatkan di sekolah sebelum nya. Menjadi lebih lebih disiplin dan rajin
seperti sedang dalam pelatihan militer,
itu bagus. Menjadi lebih dekat
dengan Tuhan tentunya, kamu tidak pernah
boleh melupakan percakapan dengan Sang Pencipta. Menjadi lebih asyik kepada teman maupun guru
baru mu disana. Menjadi lebih tinggi dan
berisi, sedikit gemuk akan membuat mu terlihat semakin cantik sepertinya. Menjadi penyemangat maupun penasihat yang
luar biasa kepada orang sekitar. Menjadi
panutan yang baik selalu untuk keluarga,
teman, atau orang sekitar. Semoga kamu tetap dalam rengkuhan, pelukan,
dan dalam perlindungan Sang Pencipta dan sekitar mu. Semoga orang-orang kerap terus mengucapkan
nama mu dalam do’a mereka. Aaamiin,
ya rabb. :)
Oh iya, aku masih penasaran bagaimana kelanjutan kisah
cinta mu, terakhir ku dengar kamu masih
dihantui oleh mantan mu yang terus saja mengejar-ngejar dirimu ya? Kamu sedang dekat dengan seorang laki-laki
dewasa yang wajahnya nan tampan, setelah
kamu lelah mendukung seorang laki-laki; yang kamu kira akan menjadi lebih dari
sekedar teman biasa – untuk dekat dengan seorang wanita, yang mana teman dekat baru mu itu
sendiri?. Ah sulit memang, namun menarik untuk dijadikan sebuah tulisan.
Tertarik menulis dan kembali ke blog lagi, Kak Yuli?.
Semoga diusia mu kali ini, kamu
mendapatkan hal yang layak kamu perjuangkan dalam persoalan cinta mu ya, Kak.
Maaf tulisan kali ini aku gunakan
untuk bersenda gurau dengan ingatan-ingatan bodoh nan tak penting yang mungkin
sudah kamu lupakan. Aku hanya ingin
menunjukan pada mu bahwa aku tidak pernah lupa secuil pun detail kejadian yang
pernah kita alami, sekali pun aku
pelupa. Kamu tetap sama, sahabat pertama ku. Selalu yang pertama. Mungkin kamu lelah membaca semua tulisan
bodoh ini, atau mungkin tak kau gubris
sama sekali tulisan ini?. Aku tak
peduli. Setidaknya kamu mengizinkan ku
menulis tentang dirimu yang ku idolakan.
Terimakasih, Kakak.
Sudah mau melalui semua nya bersama Adik Lugu ini. Terimakasih sudah mau melalui segala hal gila
bersama ku. Terimakasih sudah mau
menjadi panutan dan idola bagi hidup ku.
Terimakasih sudah mau ku bebankan selama ini. Terimakasih sudah mau berbagi cerita, keluh kesah,
penat, maupun bahagia mu pada ku. Terimakasih untuk semua nya, Kakak.
Aku menyayangi mu.
Selamat ulang tahun, Kakak.
Sosok gadis yang selalu ku jadikan panutan disetiap waktunya. Tahukah kamu semua menjadi sulit ketika kamu
tiada?. Aku masih bertanya-tanya, jika ini pertemanan yang sesungguhnya; setelah kita melewati berbagai masalah –
kecil maupun besar, bersama-sama, apakah kita masih bisa sedekat dulu? Seakrab dulu?. Apa kamu merasakan kerinduan luar biasa yang
sama?.
Ummm, apa tulisan ini terlihat seperti aku menuliskan
nya untuk kekasih atau mantan kekasih ku?. Ehehe.. Sejati nya,
ini untuk teman sejati ku, satu
jenis dengan ku, teman yang begitu
berarti untuk hidup ku selama beberapa waktu. :)
Dari Mika-mu
Yang diam-diam;
Tak pernah bisa
melupakan sosok mu,
Yuli Eri
Susanti.