Senin, 11 Agustus 2014

Selamat Ulang Tahun



            Yo,  selamat datang diumur lima belas,  Teman.  Selamat bertambah umur dan berkurang usia.  Sudah seharusnya sekarang kamu melepaskan semua sifat kekanak-kanakan mu.  Membiasakan diri tidur malam tanpa dininabobokan oleh dongeng-dongeng atau kawan tidur disamping mu untuk menemani mu melewati gelap malam dan lekas terlelap.  Tenang saja,  kamu tak pernah terlihat seperti anak-anak atau bocah dimata ku.  Kamu selalu terlihat hebat dan mandiri,  selalu pantas dan layak untuk dijadikan panutan oleh orang sekitar mu.

            Apa kabar,  Teman?.  Kapan terakhir kali kita berbincang-bincang,  bersenda gurau,  melepas penat,  dan tertawa bersama baik di Sekolah tempat kita menimba ilmu,  di Kafe tempat kita biasa mengisi perut dengan cemilan,  ataupun di base camp tempat pilihan terakhir untuk bermalas-malasan; kamar ku?  Ahaha..  Aku bahkan lupa.  Ya aku rindu tawa mu,  senyum mu,  kesabaran penuh mu,  baik perhatian atau kebijakan mu disetiap kali aku  membagi masalah,  bercerita tentang hal hal yang sulit ku hadapi sendiri.  Bagaimana cara mu berdiri disamping ku untuk menemani ku melalui semua masalah seperti awal-awal kedekatan kita.  Bagaimana cara mu selalu berusaha meluangkan waktu untuk ku ditengah kesibukan mu.  Aku rindu semua tentang mu.

            Bagaimana segala kesibukan mu berlangsung?.  Kegiatan silat yang masih kamu tekuni sampai sekarang,  bisa kah kamu terus mengikuti perkembangan nya dan mengejar ketertinggalan mu?  Aku tahu kamu selalu bisa berjalan santai mengejar semuanya.   Les dan bimbel untuk menambah pengetahuan atau mengasah ilmu mu yang masih kamu ikuti,  apa sampai sekarang masih kamu ikuti?  Ku rasa kamu sudah mempunyai banyak pengalaman dan hal yang kamu dapat disana,  menetaplah jika perlu.  Segala hal bersama teman baru dan sekolah baru yang kamu gabungi?  Aku harap semua berjalan lancar dan seperti yang kamu inginkan,  aku tahu kamu orang yang ramah dan sangat mudah untuk mengadaptasikan diri mu dengan sekitar .  Semoga selalu dapat menemukan jalan untuk menyelesaikan setiap masalah yang kamu hadapi disegala kesibukan mu.  Semoga kamu dapat mengambil hikmah dan menikmati semua nya,  Teman.

            Sudah lama aku tidak mengikuti kabar mu.  Baik nyata maupun maya.  Tidak tahu akan kabar mu,  akan segala hal yang kamu lakukan disetiap hari nya.  Aku selalu berusaha menyibukan diri agar dapat melupakan mu.  Melupakan segala kesakitan yang terasa jika mengingat kenangan bersama mu – kenangan kita.  Tidak mencuri-curi kabar mu dari segala sosial media yang menghubungkan aku dengan mu dulu.  Tidak sibuk mencari mu karna setiap saat aku merasa membutuhkan mu dan merasa ada yang kurang bila tak bersama mu.  Tidak lagi candu akan kehadiran mu.  Tidak lagi sibuk mencari tahu dengan siapa kamu menghabiskan hari hari mu tanpa aku. 

            Ini adalah surat kedua yang aku buat untuk mu.  Untuk hadiah ulang tahun mu.  Seperti tahun lalu mungkin,  aku terlalu pengecut untuk memberikan hadiah untuk mu.  Dan kali ini aku benar-benar takut.  Tiba-tiba saja aku merasa akan benar-benar kehilangan sosok teman seperti dirimu untuk selamanya,  aku takut itu akan menjadi tanda perpisahan kita.  Menurut mu seberapa bodoh aku untuk menangisi mu semalaman?  Aku benar-benar takut.  Kehilangan diri mu menjadi salah satu hal yang paling aku takuti dihidupku.  Akan menjadi hari hari yang sangat sulit untuk aku lalui tanpa bantuan tangan mu,  tanpa diri mu yang berdiri tegak lagi disisi ku.  Aku takut saat aku menyerahkan hal itu pada mu,  tangisan yang justru menjadi pelengkapnya,  bukan senyum sebagai pemanis saat-saat itu. 

            Aku selalu ingin menjadi alasan mu tersenyum,  alasan mu tertawa,  menjadi tempat mu berlabuh ketika merasa sakit yang bukan main karna beberapa alasan,  tempat mu melepas lelah,  tempat mu melampiaskan segala hal.  Tapi aku hanya selalu bisa berandai-andai – dan takkan pernah menjadi kenyataan lagi.  Mungkin kamu benar-benar sudah lupa dengan segalanya.  Mungkin kamu menganggap semua yang kita lalui,  mimpi-mimpi yang kita gantung bersama,  hanyalah angan dan khayal semata.  Kamu menganggapnya angin lalu,  ketika aku menganggapnya sesuatu yang sangat berharga,  sesuatu yang tak sembarang orang boleh menyentuhnya,  sesuatu yang begitu ku jaga.

            Selalu menjadi kesakitan tersendiri,  menambah luka,  ketika aku menulis sesuatu untuk mu.  Paksaan untuk mengingat kembali semua itu,  kembali ke masa indah itu.  Tulisan ku ini kubuat begitu telat,  ketika aku tahu kalau kamu benar-benar berarti.  Mungkin surat ini enggan kau baca,  kau sangat sibuk bukan? Ahaha. Tapi izinkan aku,  sosok orang yang menganggap dirinya adalah teman mu,  sosok yang menganggap diri mu adalah pahlawan beberapa lama untuk nya,  mengetik tentang dirimu.  Hanya suara ketikan jemari ku yang menjadi lagu di sore ini.  Izinkan aku kembali menarik oksigen karna setelah sekian lama menahan sesak ketika mengetahui bahwa aku benar-benar kehilangan dirimu.  Mari kita kembali mengingat semua nya.

            Beberapa waktu lalu aku memilih untuk mundur dari semua permainan ini.  Permainan sebuah hubungan yang ku namai “Bukan Teman Biasa”.  Permainan ini menjadikan hati dan batin sebagai taruhan nya.  Membuat ku lelah dan terenyak.  Kamu seorang kakak kelas yang begitu rajin,  pandai,  dan ramah,  yang selalu menempati posisi nomor satu dikalangan sekitar mu,  dan aku hanya seorang adik kelas bodoh yang terlalu banyak bermimpi,  malas,  dan segala ketidak seriusan-ku.  Ketika menatap mu,  aku rasa segala hal yang susah;  terasa lebih mudah dan indah untuk dikerjakan.  Segala hal yang menurut ku tak berguna;  menjadi harus ku lakukan – menjadi nomor satu seperti mu.  Aku mengingat semua deretan dan rangkaian kejadian itu,  bagaimana cara kita berkenalan satu sama lain (sudah beberapa kali aku jelaskan dipostingan-postingan sebelum nya :)),  bagaimana cara kita berdekatan,  bagaimana cara kita berbincang dan menghabiskan waktu,  semua kita lakukan bersama bukan?  Kamu ingat?.  Aku senang bagaimana cara mu merangkul ku dan memberikan aku semangat ketika aku merasa sangat bodoh. Aku senang bagaimana cara mu mengajari ku disetiap hal yang tidak ku mengerti.  Aku senang melihat bulat mata hitam mu.  Aku senang melihat potongan rambut pendek mu yang tak pernah membuat ku bosan berlama-lama memandangmu.  Aku senang melihat tawa mu yang membuat muka mu terlihat bulat seperti tomat.  Aku senang melihat dirimu yang tinggi semampai namun tidak terlalu berisi.  Aku senang semua tentang kamu.

            Di balik seragam putih biru mu,  tersimpan sosok yang tangguh dan bijak,  yang membuat siapa saja selalu ingin berada didekat mu.  Ketika kamu bercerita tentang cita-citamu yang ingin sekali menerbangkan pesawat terbang; pilot,  aku hanya tersenyum dan membayangkan kamu sibuk berkutat dengan segala hal yang ada didalam pesawat,  besar bukan tanggung jawab mu membawa puluhan bahkan ratusan nyawa dalam satu transportasi?.  Aku membalas dengan menjelaskan bahwa aku ingin menjadi penulis atau pengusaha besar,  sorot mata mu yang lembut dan teduh menandakan ketertarikan mu akan segala hal yang aku ceritakan,  membuat ku semakin merasa bangga mempunyai sosok teman seperti mu. 

            Kamu tahu bagaimana semua nya berlangsung?  Ketika aku melihat mu dengan sangat cantiknya mengenakan kebaya berwarna putih dan sedikit dandanan yang menyempurnakan mu hari itu – hari kelulusan mu?.  Rasa nya ada bagian dari hati ku yang hancur secara perlahan,  teriris.  Ingin sekali rasanya saat itu aku memeluk mu erat,  menangis dibahu mu,  tapi mungkin itu semua akan merusak kesempurnaan mu dihari itu.  Kamu tahu?  Aku meneteskan bulir air mata ini,  ketika melihat mu berbaris saat acara itu,  atau saat kamu maju kedepan sebagai siswa berprestasi.  Bangga sekaligus takut.  Sepertinya kamu benar-benar tumbuh menjadi seorang gadis luar biasa yang akan melanjutkan jenjang kehidupan luar biasa mu ketempat yang jauh lebih luar biasa;  meninggalkan aku perempuan lugu dan bodoh sendirian disini. 

            You’ve told me,  that everything is gonna be okay.  You always by my side.  Sampai sekarang,  kata-kata mu itu tidak ada gunanya,  kosong.  Aku tahu semua nya tidak akan pernah baik-baik saja tanpa mu.  Hanya kamu teman ku berbincang disekolah.  Dan saat kamu pergi,  mungkin akan sangat susah bagiku menemukan suasana baru.  Mungkin memang belum ada satu tahun,  atau bahkan belum ada setengah tahun kita tidak saling menatap,  namun rindu ini terus tumbuh dan merekah dalam diriku,  rasanya sangat ingin ku biarkan tumbuh bebas diluar,  namun apa daya,  tempatnya merindu;  kamu,  tidak bisa ku jangkau saat ini.  Apa kamu masih ingat tempat kita berbicara?  Apa kamu masih tinggi semampai?  Masih tidak berisi?  Masih pandai?  Masih ingat aku?. 

            Ah seandainya ku katakan semua perasaan ku ini secara langsung,  pasti semua tidak akan menjadi tolol dan bodoh seperti ini.  Menerka-nerka yang tidak-tidak tentang mu.  Dan mungkin kamu juga.  Ah,  buat apa juga aku bersedih?  Ini kan tulisan mengenai ulang tahun mu!  Mari kita bersenang-senang.  Duduk berhadapan atau bersampingan,  membagi makanan berdua.  Sedekat dulu lagi.  Ceritakan tentang segala hal yang telah kamu lalui selama ini tanpa ku.  Ceritakan semua nya,  aku tidak peduli apa itu teman baru di Kampus Ungu mu,  atau tentang ikatan siswa yang namanya tak lagi OSIS disana,  ceritakan saja semuanya;  pasti ku dengarkan,  Kak Yuli.

            Sekali lagi,  selamat ulang tahun.  Semoga diumurmu yang ke lima belas ini,  kamu menjadi lebih dewasa.  Menjadi lebih ramah kepada orang sekitar mu.  Menjadi lebih pengasih dan penyabar dari yang kamu lakukan untuk ku.  Menjadi lebih pandai disetiap hal dari yang kamu dapatkan di sekolah sebelum nya.  Menjadi lebih lebih disiplin dan rajin seperti sedang dalam pelatihan militer,  itu bagus.  Menjadi lebih dekat dengan Tuhan tentunya,  kamu tidak pernah boleh melupakan percakapan dengan Sang Pencipta.  Menjadi lebih asyik kepada teman maupun guru baru mu disana.  Menjadi lebih tinggi dan berisi, sedikit gemuk akan membuat mu terlihat semakin cantik sepertinya.  Menjadi penyemangat maupun penasihat yang luar biasa kepada orang sekitar.  Menjadi panutan yang baik selalu untuk keluarga,  teman,  atau orang sekitar.  Semoga kamu tetap dalam rengkuhan,  pelukan,  dan dalam perlindungan Sang Pencipta dan sekitar mu.  Semoga orang-orang kerap terus mengucapkan nama mu dalam do’a mereka.  Aaamiin,  ya rabb. :)

            Oh iya,  aku masih penasaran bagaimana kelanjutan kisah cinta mu,  terakhir ku dengar kamu masih dihantui oleh mantan mu yang terus saja mengejar-ngejar dirimu ya?  Kamu sedang dekat dengan seorang laki-laki dewasa yang wajahnya nan tampan,  setelah kamu lelah mendukung seorang laki-laki; yang kamu kira akan menjadi lebih dari sekedar teman biasa – untuk dekat dengan seorang wanita,  yang mana teman dekat baru mu itu sendiri?.  Ah sulit memang,  namun menarik untuk dijadikan sebuah  tulisan.  Tertarik menulis dan kembali ke blog lagi,   Kak Yuli?.  Semoga diusia mu kali ini,  kamu mendapatkan hal yang layak kamu perjuangkan dalam persoalan cinta mu ya,  Kak.

            Maaf tulisan kali ini aku gunakan untuk bersenda gurau dengan ingatan-ingatan bodoh nan tak penting yang mungkin sudah kamu lupakan.  Aku hanya ingin menunjukan pada mu bahwa aku tidak pernah lupa secuil pun detail kejadian yang pernah kita alami,  sekali pun aku pelupa.  Kamu tetap sama,  sahabat pertama ku.  Selalu yang pertama.  Mungkin kamu lelah membaca semua tulisan bodoh ini,  atau mungkin tak kau gubris sama sekali tulisan ini?.  Aku tak peduli.  Setidaknya kamu mengizinkan ku menulis tentang dirimu yang ku idolakan.

            Terimakasih,  Kakak.  Sudah mau melalui semua nya bersama Adik Lugu ini.  Terimakasih sudah mau melalui segala hal gila bersama ku.  Terimakasih sudah mau menjadi panutan dan idola bagi hidup ku.  Terimakasih sudah mau ku bebankan selama ini.  Terimakasih sudah mau berbagi cerita,  keluh kesah,  penat,  maupun bahagia mu pada ku.  Terimakasih untuk semua nya,  Kakak.  Aku menyayangi mu. 

            Selamat ulang tahun,  Kakak.  Sosok gadis yang selalu ku jadikan panutan disetiap waktunya.  Tahukah kamu semua menjadi sulit ketika kamu tiada?.  Aku masih bertanya-tanya,  jika ini pertemanan yang sesungguhnya;  setelah kita melewati berbagai masalah – kecil maupun besar,  bersama-sama,  apakah kita masih bisa sedekat dulu?  Seakrab dulu?.  Apa kamu merasakan kerinduan luar biasa yang sama?. 

            Ummm,  apa tulisan ini terlihat seperti aku menuliskan nya untuk kekasih atau mantan kekasih ku?. Ehehe..  Sejati nya,  ini untuk teman sejati ku,  satu jenis dengan ku,  teman yang begitu berarti untuk hidup ku selama beberapa waktu. :)

Dari Mika-mu
Yang diam-diam;
Tak pernah bisa melupakan sosok mu,
Yuli Eri Susanti.